Selasa, 05 Oktober 2010

WIRO SABLENG

SATU
KEDAI MINUMAN itu penuh dengan para pengunjung yang ingin menikmati
bandrek, pisang rebus dan kacang goreng. Sehabis hujan memang sedap sekali
duduk menikmati bandrek hangat sambil mengobrol dan menghisap rokok, (bandrek
" minuman manis bercampur jahe, biasanya diminum hangat-hangat).
Tetamu yang ada dalam kedai itu rata-rata bertampang sangar dan kebanyakan
membekal golok. Pertanda bahwa mereka adalah orang-orang kasar.
Seorang pemuda muncul di pintu kedai. Pakaiannya basah kuyup. Dia
memakai ikat kepala putih dan rambutnya yang gondrong basah acak-acakan.
"Saya mencari Memed Gendut. Apakah orangnya ada di sini?" pemuda itu
bertanya.
Orang-orang yang ada di dalam kedai itu berpaling ke pintu. Sesaat mereka
memandang si pemuda lalu meneruskan obrolan mereka, menghisap rokok atau
meneguk bandrek. Tak ada yang menjawab.Semua seperti tak acuh. Seolah-olah
pemuda itu tak ada disana.
Orang yang bertanya garuk-garuk kepalanya. Terdengar suaranya perlahan,
tetapi cukup je!as terdengar oleh semua pengunjung kedai ketika dia berkata,
"Aku yakin tidak semua orang yang ada di sini bisu. Tapi mengapa tak ada
yang menjawab?"
Seorang berdestar hitam berpipi cekung membuka mulut dari belakang meja
di mana dia sibuk melayani tetamu. Dia adalah pemilik kedai.
"Orang yang kau cari tak ada di sini "
"Saya mendapat keterangan orang itu selalu nongkrong di kedai ini setiap
malam," berkata si pemuda. Dia masih saja tegak di pintu, tampaknya segan
masuk ke dalam kedai yang sudah sesak oleh tamu itu,
"Memang benar, tapi malam ini dia belum muncul. Mungkin sebentar lagi,"
kata orang kedai lalu menyarankan: "Tunggu saja di sini sambil minum-minum
...."
Pemuda itu memandang berkeliling dan menjawab: "Biar saya menunggu di
luar saja ...."
"Terserah padamu. Tak ada yang melarang dimanapun kau mau menunggu."
Pemuda tadi balikkan tubuh dan pergi tegak di bawah cucuran atap kedai.
Udara malam sehabis hujan sangat dingin. Tapi pemuda ini seperti tidak
merasakan. Dia tetap tegak di tempatnya mematung dan menunggu sampai
akhirnya dari dalam kedai keluar dua orang tamu. Yang satu tinggi kekar
berkumis melintang. Satunya lagi agak pendek berkereta gundul, juga bermisai
lebat. Masing-masing membawa golok di pinggang.
"Anak muda rambut gondrong. Kau orang asing di sini. Ada apa mencari
Memed Gendut?" salah seorang yang barusan keluar dari kedai ajukan
pertanyaan.
"Keperluan kecil: Biasa-biasa saja" jawab sipemuda.
"Hemm... Apa yang kecil dan apa yang biasa-biasa?" bertanya lelaki botak.
Matanya liar memandangi si pemuda dari atas sampai ke bawah.
"Saya hanya ingin bicara dengan Memed Gendut. Tidak dengan lain orang."
"Jangan begitu. Kami berdua adalah kawan-kawan orang yang kau cari. Jika
kau ada keperluan kami bisa membantu." Kata si tinggi kekar.
Pemuda itu berpikir sejenak. Akhirnya menjawab.
"Terima kasih. Biar saya menunggu Memed Gendut saja
"Sikapmu tidak mempercayai kami berdua huh?!" 5»ata si pendek botak
dan.dia melangkah mundar-mandir di depan pemuda itu. Tangan kanannya
bersitekan pada hulu golok.
Si pemuda garuk-garuk kepalanya. "Apa gunanya saya tidak percaya pada
kalian. Tapi apa untungnya kalau mempercayai kalian!"
Si tinggi besar ulurkan tangannya dan tepuk-tepuk bahu pemuda itu.
"Jangan bicara seperti itu anak muda. Orang hendak menolongmu kenapa
bicara tidak enak begitu ...?"
"Eh. aku tadi bilaa terima kasih. Dan tak mau ditolong karena ingin
menunggu Memed Gendut. Tapi kalian seperti memaksa!',' Pemuda berambut
gondrong yang bertampang seperti tolol itu kini keluarkan suara keras dan kasar
karena jengkel.
Si tinggi besar menyeringai dan kedipkan mata pada kawannya yang berkepala
botak, lalu berkata pada pemuda di hadapannya.
"Memed Gendut terkenal sebagai pedagang kuda di daerah ini. Jika ada orang
asing mencarinya, pasti urusan jual beli kuda. Bukan begitu?"
Si pemuda tak menjawab.
Si botak kini ikut memegang bahu pemuda itu seraya berkata: "Jika kau
memang ingin membeli kuda, serahkan saja uangmu pada kami. Tunggu di sini.
Dalam waktu singkat kami akan kembali membawakan seekor kuda paling
bagus untukmu.... Nah serahkanlah"
"Serahkan apa?!"
"Uang pembeli kuda!"
"Apa kalian juga pedagang kuda?"
Si tinggi menjawab: "Tadi sudah kami katakan. Kami ingin menolongmu.
Ternyata betul kau ingin membeli kuda! Memed Gendut memang pedagang kuda
terkenal. Tapi harga kudanya mahal.Kuda milik kami tak kalah bagus, malah
jauh lebih murah. Tun jukkan berapa uang yang kau punya?"
"Sudahlah. Biarkan aku sendirian di sini. Lebih baik kalian masuk lagi ke
dalam meneruskan minum.."
"Hemm " si tinggi besar usap-usap dagunya. "Kalau begitu kau harus bayar
uang wara-wiri pada kami!"
"Eh, bayar apa? Apa itu uang wara-wiri?" tanya si pemuda heran.
"Sebagai ganti rugi karena kedatanganmu mengganggu makan-minum kami!"
jawab si pendek botak seraya puntir kumis tebalnya.
Pemuda gondrong melongo la!u tertawa gelak-gelak.
"Sialan! Kenapa tertawa!" bentak si tinggi
"Kalian ini berdua mengemis atau hendak memeras?!" tukas pemuda itu.
'Terserah kau mau menyebut apa! Bagusnya lekas kau serahkan semua uang
yang kau miliki!" bentak si botak.
"Nah, nah! Tadi hanya minta uang wara-wiri! Kini inginkan semua uangku!
Benar-benar wong edan!"
Sret!
Sretl
Dua bilah golok telanjang tahu-tahu sudah melintang di batang leher pemuda
itu. Orang lain mungkin sudah pingsan atau terkancing ketakutan dikalungi
dua buah golok seperti itu. Tapi anehnya si pemuda malah menyeringai dan
keluarkan siulan.
"Kalau begini namanya bukan pengemis atau pemerasan, tapi perampokan!"
katanya
"Tepat sekali! Ini memang perampokan! Lekas serahkan semua uangmu I" Si
botak ulurkan tangan kirinya untuk menggeledah pinggang dan saku pakaian
si pemuda. Tapi tiba-tiba pemuda itu hantamkan sikunya ke lambung si botak
hingga orang ini terjungkal. Di saat yang bersamaan kawannya si tinggi
merasakan satu tendangan menghantam tempurung lututnya hingga hancur
dan terjengkang jatuh sambil berteriak kesakitan.
Plak!
Plak!
Satu tamparan amat keras melayang ke muka kedua orang itu. Bibir mereka
pecah. Keduanya tergelimpang pingsan di bawah cucuran atap.
Suara pukulan dan tendangan serta pekik dan tamparan membuat semua
tamu dalam kedai terkejut lalu berlarian ke luar untuk melihat apa yang terjadi.
Di luar mereka dapatkan dua kawan mereka tergelimpang pingsan di tanah yang
becek sementara pemuda asing yang tadi mencari Memed Gendut tegak tenangtenang
bersidakap lengan,, seolah-olah tak ada terjadi apa-apa di tempat itu.
Seorang menyeruak dari kerumunan para pengunjung kedai dan bertanya:
"Ada apa di sini?! Anak muda. Kau yang mencelakai kedua orang ini?"
"Bukan aku. Mereka minta celaka sendiri!" jawab si pemuda. Lama-lama dia
merasa muak melihat sikap orang-orang itu. "Aku mencari Memed Gendut!
Mereka hendak merampok! Wong edan!"
"Jangan menuduh sembarangan! Mereka adalah orang baik-baik!" Yang bicara
adalah pemilik kedai.
"Begitu? Apa kau dapat menerangkan mengapa orang baik-baik mencabut
golok dan memaksa aku menyerahkan uang?!"
"Kau mengarang cerita!" Seseorang berkata setengah berteriak.
Lalu beberapa orang membuat gerakan sama. Mencabut golok di pinggang
masing-masing. Termasuk si pemilik kedai.
"Hemm.... kalau begitu kalian semua ternyata kawanan rampok!" ujar si
pemuda. "Rupanya sudah cukup lama kalian berkomplot di daerah ini tanpa
pernah mendapat hajaran! Hari ini biar tuan besarmu memberikan, sedikit
pelajaran! Majulah ramai-ramai!"
"Pemuda Sombong!"
"Minta mampus!"
Enam orang merangsak maju dengan senjata di tangan. Si pemuda sama
sekali tidak takut. Sikapnya berdiri acuh tak acuh- Ketika dua dari enam
pengeroyok menyerbu maju, pemuda berambut gondrong keluarkan siulan
nyaring. Tubuhnya berkelebat ke atas. Tangan dan kakinya menghantam kian
ke mari. Maka terdengarlah jerit pekik di tempat itu. Tiga orang langsung
terhampar di tanah, merintih kesakitan sambil pelangi dada, kepala atau perut.
Dua lainnya tersandar di dinding kedai. Yang satu yang paling parah
menyangsang di antara semak belukar di seberang jalan!
Melihat kejadian ini, yang lain-lain melangkah mundur menjauhi si pemuda.
Rasa kagum tertutup oleh rasa takut. Ketika pemilik kedai buang senjatanya ke
tanah dan masuk ke dalam kedai, yang lainnya pun mengikuti. Tapi ada pula
yang segera meninggalkan tempat itu dan lenyap dalam kegelapan malam.
Si pemuda tiba-tiba merasakan punggungnya di tepuk orang. Cepat dia
berpaling dan dapatkan seorang lelaki kecil sangat kurus tegak di hadapannya.
Orang ini memberi isyarat seraya berkata: "Lekas ikuti aku!"
"Kau siapa?" tanya si pemuda curiga.
Orang itu tak menjawab, malah langsung berlari pergi. Meskipun merasa tidak
enak tapi akhirnya pemuda itu mengejar juga orang tadi.
Jauh di pinggiran desa, dekat pesawahan orang itu perlambat larinya lalu
berhenti dan menunggu si pemuda.
''Katakan apa maksudmu menyuruh aku mengikuti?!" tanya si pemuda.
"Bukankah kau mencari Memed Gendut? Akulah orangnya!"
"Kurang ajar! Jangan berani bergurau "
"Aku tidak bergurau! Memang akulah Memed Gendut. Pedagang kuda yang
kau cari!"
"Menurutku yang namanya Memed Gendut itu pasti manusianya gemuk
besar. Tidak kurus kering cacingan sepertimu ini!"
Orang itu tertawa. "Kau hanya mengenal namaku. Belum pernah bertemu.
Bukan kau seorang yang menduga salah. Orang-orang memberi nama itu
padaku justru sebagai kebalikan dari keadaan tubuhku yang seperti jerangkong
ini!"
'Begitu? Tapi aku masih belum percaya padamu. Bukankah tadi kulihat kau
ada di dalam kedai ketika aku pertama kaii datang dan bertanya?"
"Betul..”
"Lalu kenapa kau tidak menjawab?"
“Aku tidak berani."
"Mengapa tidak berani?"
"Kedai dan daerah sini dikuasai oleh gerombolan rampok dan pemeras
pimpinan Kumbang Plered. Orangnya, itu yang tinggi besar dan berkumis yang
mula-mula mendatangimu bersama si botak. Pemilik kedai adalah salah seorang
anak buahnya. Oan aku sejak lama jadi bulan-bulanan pemerasan mereka. Jika
ada yang hendak membeli kuda, mereka langsung turun tangan menetapkan
harga. Padaku kemudian hanya diberikan sejumlah uang yang sangat kecil. Aku
sudah lama ingin meninggalkan daerah ini, tapi mereka mengancam anak dan
istriku!" Memed Gendut yang ternyata hanya seorang lelaki separuh baya bertubuh
kurus kering diam sesaat. Lalu .dia bertanya:
"Kau mencariku apakah hendak membeli kuda ....?"
Pemuda rambut gondrong mengangguk. "Tapi aku kawatir uangku tak cukup.
Apakah bisa kalau menyewa saja?"
Memed Gendut tertawa. "Sewa menyewa tak pernah kulakukan. Itu urusan
bikin repot saja. Melihat kau telah melakukan sesuatu yang hebat malam ini,
aku bertanya, berapa uang yang kau miliki?"
Pemuda itu mengeluarkan sebuah kantong kecil dan menyerahkannya pada si
pedagang kuda. Memed Gendut memeriksa lalu memasukkan kantong itu ke
dalam saku pakaiannya.
"Uangmu tak cukup untuk membeli sepotong kudapun. Tapi tak apa. Kau
orang asing. Dari sini kemana tujuanmu?" tanya Memed Gendut.
"Lumajang."
"Lumajang? Berarti kau akan melewati lautan pasir Tengger. Dengan berkuda
terus menerus paling tidak kau membutuhkan waktu satu hari satu malam. Dan
tak mungkin kau hanya memiliki seekor kuda. Paling tidak harus ada seekor
kuda cadangan. Kalau hanya membawa seekor kuda, dan terjadi apa-apa dengan
binatang itu, kau akan menemui ajal dilautan pasir. Lebih baik kau mengambil
jalan lain. Tapi itu berarti lebih dari sepuluh hari baru sampai di Lumajang."
"Itulah yang tak aku ingini. Aku harus cepat-cepat sampai di sana." Si pemuda
tampak bingung dan garuk-garuk kepalanya berulang kali. "Uangku katamu
tidak cukup .... Bagaimana ini?"
"Sudahlah, aku akan menolongmu. Boleh aku tahu namamu?"
"Panggil aku Wiro," jawab pemuda gondrong.
"Aku akan berikan dua ekor kuda padamu. Jika kemudian hari kau mau
membayar kekurangannya terserah saja. Tapi aku tak begitu mengharapkan ..."
"Terima kasih. Kau orang baik. Tapi dari tadi kita hanya bicara saja di pinggir
sawah di malam buta dan gelap begini. Aku belum melihat kuda-kudamu ..,."
"Rumahku di timur sawah ini. Kita berangkat sekarang saja."
Kedua orang itu menyeberangi sawah menuju ke arah timur. Selewatnya
pesawahan, dalam kegelapan malam di kejauhan tampak sederetan rumah.
Salah satu di antaranya memiliki halaman luas yang diberi berpagar kayu tinggi.
Lebih dari selusin kuda kelihatan di balik pagar itu. Inilah rumah Memed
Gendut. Ketika sampai di ujung pagar, pedagang kuda ini hentikan langkah. Dia
memandang ke arah rumah. Dalam kegelapan tampak sosok-sosok tubuh
mendekam di sekitar bangunan.
"Hatiku tak enak. Ada bebecapa orang di sekitar rumah. Aku curiga. Janganjangan
.. .." kata Memed Gendut.
"Aku juga sudah melihat dari tadi," kata Wiro.
"Tenang saja. Jika orang-orang itu bermaksud jahat akan kugebuk seperti tadi
aku menggebuk Kumbang Plered dan anak buahnya."
"Yang aku kawatirkan anak istriku di dalam rumah” ujar Memed Gendut.
Kedua orang itu memasuki pintu halaman.
"Berhenti di sana!" satu bentakan menggema keras di dalam kegelapan malam
yang dingin.
"Astaga! Itu suara Kumbang Plered!" bisik Memed Gendut. "Bagaimana dia
tahu-tahu sudah berada di sini?!"

DUA
DELAPAN ORANG bergerak dari arah bangunan rumah. Semua menghunus
senjata di tangan. Golok dan kelewang. Di sebelah depan memimpin seorang
bertubuh tinggi besar. Ternyata dia memang Kumbang Plered, kepala
gerombolan rampok dan pemeras.
"Memed Gendut!" teriak suara Kumbang Plered. Salah satu kakinya yang
luka parah tampak di ikat dan diganjal dengan beberapa potong kayu. "Tidak
disangka kau telah berkomplot dengan seorang pemuda asing dan berani
melawan kami!"
"Aku tidak berkomplot dengan siapa-siapa Kumbang!" kata Memed Gendut.
"Masih berani kau berdusta! Apa yang terjadi di kedai tadi cukup
membuktikan tuduhanku! Dan sekarang terbukti lagi kau muncul di sini
bersama kawanmu itu! Bagus! Bagus sekali perbuatanmu Memed. Dan kau
harus bayar dengan mahal semua itu!"
"Selama ini aku selalu mengikuti kehendakmu Kumbang. Sekarang kulihat
kau tidak beritikad baik terhadapku . ..?"
"Bukan hanya padamu Memed! Tapi juga terhadap kawanmu! Dengar baikbaik.
Di dalam rumah dua orang anak buahku siap menggorok leher istri dan
tiga anakmu!"
"Ya Tuhan!" pekik Memed Gendut. "Jangan kau celakai anak istriku!"
"Jika kau ingin mereka selamat ikuti kata dan perintahku!" kata Kumbang
Plered.
"Apa yang kau inginkan Kumbang....?' suara Memed Gendut bergetar
sementara Wiro tegak tak bergerak memperhatikan keadaan di sekitarnya.
"Pertama kawanmu itu harus menyerahkan seluruh uang yang dimilikinya
"Ini ambillah!" ujar Memed Gendut seraya melemparkan kantong uang yang
tadi diterimanya dari Wiro.
Kumbang Plered cepat menangkap kantong uang itu. "Kedua, semua kuda
yang ada di tempat ini mulai detik ini menjadi milikku . .."
"Mati aku! Kumbang! Kau tahu mata pencaharianku adalah berjual beli kuda.
Keuntungannya tidak seberapa. Kalau kau merampas semua kudaku
bagaimana aku menghidupi anak istriku ... .!" teriak Memed Gendut dengan
suara setengah meratap.
"Kalau begitu kau tak ingin anak istrimu selamat! Apakah perlu kuperintahkan
agar mereka segera digorok saat ini?!"
"Jangan ...! Jangan lakukan itu Kumbang! Kau boleh ambil semua kuda itu.
Lalu pergi dari sini!" Kumbang Plered menyeringai.
"Bagus! Rupanya kau betul-betul mencintai anak istrimu. Hal
ketiga!Kawanmu itu akan kami tangkap hidup-hidup. Jika dia berani melawan,
anak istrimu tetap akan jadi korban!"
Memed Gendut berpaling pada Wiro. Si pemuda tampak berubah parasnya.
Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Ada apa kau ingin menangkapku?!" tanya Wiro.
"Pertama karena apa yang telah kau lakukan terhadap kami di kedai bandrek
tadi! Kedua kami mengetahui kau mengandung maksud buruk pergi ke
Lumajang. Jadi kau pantas ditangkap dan diserahkan pada Adipati Kebo
Penggiring!"
"Keparat setan alas!" Wiro memaki dalam hati. "Apakah bergundal sial ini
benar-benar mengetahui tujuanku ke Lumajang?!" Kepada Kumbang Plered Wiro
tak ingin menunjukkan keterkejutannya. Malah dia berkata mengejek: "Rupanya
pelajaran yang kuberikan di kedai minuman itu masih belum cukup. Kau ingin
kakimu satu lagi diikat dan diganjal kayu?!"
Kumbang Plered meludah ke tanah. Saat itu bibirnya masih mengeluarkan
darah akibat tamparan keras Wiro.
"Pemuda gembel buruk! Jangan berlagak jagoan di hadapanku.Kau kenal dua
temanku ini.. ..?" Kumbang Plered menunjuk pada dua lelaki berpakaian merah
di sampingnya.
Wiro ingat betul. Dua orang ini tidak ada dalam kedai bandrek ketika dia
datang ke sana. Rupanya Kumbang Plered sengaja datang ke situ membawa
mereka untuk dimintakan bantuan. Berarti keduanya memiliki kepandaian yang
diandalkan.
"Siapa dua ekor kunyuk itu mana perduliku!" menyahuti Wiro.
Kumbang Plered tertawa mengekeh. Sedang dua orang berpakaian merah
tampak berubah garang tampang mereka karena dicaci sebagai kunyuk oleh
Wiro.
"Kawan-kawan, kalian dengar sendiri. Mulutnya terlalu lancang. Menurut
hematku kalau tak dapat ditangkap hidup-hidup mayatnya pun cukup berharga.
Bagaimana pendapat kalian?!"
Salah satu dari dua orang berpakaian merah itu menjawab: "Kami lebih suka
mematahkan batang lehernya!" Lalu dia memberi isyarat pada kawan di
sebelahnya. Lima orang anak buah Kumbang Plered segera menyebar,
mengurung. Memed Gendut menjauhkan diri ke sudut halaman. Dua lelaki
berpakaian merah tampaknya hanya mengandalkan sepasang tangan kosong,
bergerak mendekati Wiro. Siapakah kedua orang berpakaian serba merah ini?
Yang berjanggut macam kambing bernama Kuto Simpul. Kawannya yang
bermata jereng bernama Reso Bondo. Sekitar setahun lalu kedua orang ini ikut
menjadi pimpinan dari satu kelompok rampok hutan Roban yang ganas.
Keduanya kemudian memisahkan diri lalu meneruskan kehidupan sesat
dengan berkeliaran sebagai manusia-manusia bayaran. Kalau dulu mereka
malang melintang dalam rimba belantara maka kini keduanya berkeliaran di
Kadipaten-Kadipaten bahkan tak jarang muncul di Kotaraja. Mereka akan
melakukan apa saja — mulai dari membunuh dengan meracun sampai menjagal
batang leher korban — asalkan mendapat bayaran. Karenanya tidak heran
kalau kedua orang ini banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh golongan sesat
tapi juga pejabat-pejabat kerajaan.
Kumbang Plered termasuk salah seorang yang rapat hubungannya dengan
kedua orang ini. Karena kebetulan mereka berada di daerah itu, setelah dihajar
oleh Wiro, Kumbang Plered memerintahkan anak buahnya menemui Kuto dan
Reso. Bersama-sama mereka mendatangi rumah Memed Gendut. Dugaan
mereka bahwa pedagang kuda dan pemuda itu akan muncul bersama di sana
ternyata tidak meleset.
Melihat dua orang itu maju tanpa keluarkan senjata, Wiro segera maklum
kalau mereka tidak boleh dianggap remeh. Namun dasar sikapnya yang suka
menggoda dan mencemooh orang, pemuda ini enak saja kembali mengejek.
"Ayo dua ekor kunyuk majulah. Kalian membela bangsa perampok dan
pemeras berarti kalian sama saja isi perutnya!"
Kuto Simpul dan Reso Bondo marah bukan main. Seumur hidup baru kali itu
keduanya menerima penghinaan demikian rupa. Didahului dengan bentakanbentakan
garang, keduanya berkelebat menyerang. Suara serangan mereka
mengeluarkan angin deras tanda keduanya memiliki tenaga luar dan tenaga da9
lam yang tinggi.
Untuk menjajaki sampai di mana kekuatan lawan, Wiro sengaja menyongsong
dengan kedua lengan terpentang, berusaha mengadu tangan. Tapi dua orang
lawan berlaku cerdik. Mereka menghindari terjadinya bentrokan pukulan,
sebaliknya serentak menyebar ke kiri dan kanan lalu menghantam dengan
pukulan tangan kosong.
Wutt!
Wutt!
Dua angin pukulan menerpa dengan deras. Wiro melompat ke belakang.
Kedua tangannya diangkat ke atas. Masing-masing telapak melambai menyapunyapu.
Terdengar suara menderu. Kuto dan Raso tersentak kaget ketika
dapatkan angin pukulan mereka bukan saja menjadi buyar, tetapi membalik ke
arah mereka sendiri!
Kedua orang itu cepat jatuhkan diri. Begitu menjejak tanah mereka gulingkan
diri sambil kaki kirimkan tendangan. Kuto menendang ke arah kaki kanan Wiro
sedang Reso Bondo menghantam ke arah dada. Mau tak mau Wiro terpaksa cari
selamat dengan jalan melompat ke atas. Dari atas pemuda ini kembali kebutkan
kedua tangannya. Tapi lawan sudah berguling lagi menjauh. Sambil bangkit
Kuto Simpul berbisik pada kawannya.
"Reso, pemuda ini bukan cacing tanah sembarangan. Hati-hatilah
"Kau betul," sahut Reso Bondo. "Sebaiknya kita keluarkan empat jurus
perampok mabok sekarang juga!"
Kuto Simpul mengangguk tanda setuju.
Dari mulut kedua orang itu tiba-tiba keluar suara tawa berkakakan terus
menerus. Sambil tertawa keduanya bergerak berputar-putar mengelilingi Wiro.
Tangan dan kaki mereka ikut bergerak tiada putus-putusnya, memukul dan
menendang, membuat Wiro terjepit di tengah-tengah dan siap jadi bulanbulanan
serangan.
"Jurus rampok mabok!" seru Kumbang Plered dalam hati dan terkejut.
"Baru beberapa gebrakan mereka sudah mengeluarkan jurus hebat itu.
Apakah pemuda keparat itu benar-benar luar biasa?"
"Hai! Kalian benar-benar seperti kunyuk mabok
durian?'!" Wiro berteriak. "Menjauhilah! Badan kalian menebar bau busuk"
Buk!
Baru saja pemuda itu mengejek demikian, satu pukulan menghantam
dadanya sebelah kiri.
"Kena!" seru Kuto Simpul giring walaupun mulutnya tampak meringis karena
tangannya yang tadi berhasil menghantam dada lawan terasa sakit. Selain
menahan sakit Kuto juga menutupi rasa herannya. Pukulan kerasnya tadi
jangankan membuat lawan terjungkal, cidera pun tidak. Maka diapun memberi
isyarat pada Reso Bondo untuk melipat gandakan arus serangan dan menambah
cepat gerakan memainkan jurus-jurus perampok mabok yang kini tinggal tiga
jurus.
Memed Gendut yang melihat si pemuda terdesak malah kena pukul menjadi
semakin ketakutan. Dia lari kearah rumah untuk menemui anak istrinya. Tapi
dua orang anak buah Kumbang Plered cepat menghadangnya dan menekankan
ujung golok ke perut pedagang kuda itu.
"Lepaskan anak istriku! Jangan kalian sakiti mereka!" teriak Memed Gendut
Tubuhnya terkulai lemas dan jatuh duduk di tanah.
Sementara-itu Kuto Simpul dan Reso Bondo sudah mulai menyerbu Wiro
sambil terus berteriak-teriak. Empat jurus perampok mabok sebenarnya
merupakan ilmu silat yang bukan sembarangan. Terbukti dengan mengandalkan
ilmu silat itu Kuto dan Reso telah membuat diri mereka ditakuti di mana-mana.
Namun malam itu keduanya berhadapan dengan seorang lawan yang tingkat
kepandaiannya jauh berada di atas mereka. Meskipun telah melipat gandakan
kecepatan serangan, tapi sampai jurus ke empat selesai, keduanya tidak
berkesempatan untuk mendapatkan pukulan ataupun tandangan ke tubuh
Wiro.
"Hai! Kenapa kalian berhenti barteriak-teriak?!" Wiro bertanya mengejek.
"Rupanya sudah sembuh dari kerasukan setan?!"
"Keparat! V gertak Reso Bondo. Tubuhnya berkelebat. Lima jari tangan
kanannya diluruskan dan menusuk deras ke tenggorokan Wiro. Kawannya tak
tinggal diam, kirimkan tendangan ke bawah perut si pemuda.
"Hemm... Kali ini rasakan bagianmu!" kata Kumbang Plered yang merasa
yakin serangan mendadak dan cepat dari kedua orang berpakaian merah itu
pasti akan menghantam tubuh si pemuda. Namun alangkah terkejutnya ketika
melihat apa yang kemudian terjadi.
Wiro miringkan tubuhnya ke belakang. Tusukan lima jari tangan Reso Bondo
hanya menembus udara kosong. Di saat yang sama pemuda itu lepaskan
tendangan kaki kanan, membabat kaki Kuto Simpul yang menderu ke arah
selangkangannya. Sebelum tubuhnya jatuh punggung di tanah, Wiro masih
sempat mencekal pergelangan tangan Reso Bondo lalu menyentakkan selebat
tenaga!
Gerakan yang dibuat Wiro bukan saja sangat sulit tapi sungguh luar biasa.
Tubuh Reso Bendo laksana dilabrak topan, menderu jungkir balik di udara dan
terhempas keras di tanah tanpa dia bisa membuat gerakan mengimbangi diri
atau mampu berusaha jatuh di atas kedua kaki Mata jereng manusia ini
membeliak dan dari mulutnya .terdengar suara gerung kesakitan. Kening dan
hidungnya lecet berdarah disungkur tanah!
Dibandingkan dengan kawannya yakni Kuto Simpel si janggut kambing, Reso
Bondo masih mending. Kalau dia cuma lecet kening dan hidung maka Kuto
Simpul terdengar menjerit ketika tulang kering kaki kanannya remuk dihantam
tendangan Wiro. Tubuhnya terjengkang dan dia tak kuasa berdiri lagi.
"Keparat!" maki Reso Bondo seraya berdiri terhuyung-huyung. Dia berpaling
pada Kumbang Plered dan berteriak: "Kumbang! Perintahkan orang-orangmu di
dalam rumah membunuh perempuan dan anak-anak itu!"
"Jangan!" terdengar jeritan Memed Gendut. "Jangan ganggu anak istriku!"
Reso Bondo melompat dan menjambak rambut pedagang kuda itu. Dia
memandang ke jurusan Wiro dan berteriak: "Kau dengar ratap orang ini? Jika
kau tidak mau menyerah perempuan dan anak-anak di dalam rumah akan
kusuruh bunuh!"
"Sialan! Bangsat ini benar-benar nekad!" maki Wiro dalam hati. "Kalau kau
berani melukai perempuan dan anak-anaknya itu aku bersumpah untuk
membunuhmu lebih dulu!" gertak Wiro.
"Bagusi Akan kita lihat! Siapa yang bakal mampus duluan!" ujar Reso Bondo
mendengus. "Seret perampuan dan dua anak itu keluar rumah!"
Kumbang Plered melangkah terpincang-pincang. Walaupun dia berjalan dalam
keadaan satu kaki cidera dan dengan bantuan tongkat kayu, tapi gerakannya
masih cukup cepat. Dia masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian muncul lagi
diikuti dua orang anak buahnya. Yang paling depan menyeret seorang
perempuan yang tengah hamil besar. Di sebelah belakang menyusul lelaki kedua
sambil mencekal leher pakaian dua orang anak lelaki kecil berusia dua dan tiga
tahun. Kedua anak ini menangis menjerit-jerit
Kumbang Plered cabut golok besarnya dan letakkan ujung senjata itu di atas
perut istri pedagang kuda sementara Reso Bondo angkat kedua tangannya ke
atas, siap mengemplang kepala dua orang anak Memed lenduti
"Baiklah! Aku menyerah!" kata Wiro sementara Memed Gendut meratap
menyembah-nyembah di hadapan Reso Bondo agar kedua anak dan istrinya
jangan dilukaj, apalagi sampai dibunuh. "Kalian mau tangkap aku silahkant"
ujar Wiro.
Kuto Simpul yang masih terkapar di tanah segera berteriak pada anak-anak
buah Kumbang Plered.
"Lekas kalian tangkap dan ikat pemuda gondrong itu!"
Tiga orang anak buah Kumbang Plered cepat maju mendekati Wiro. Salah
seorang di antaranya membawa segulung tali. Wiro ulurkan tangan. Lelaki yang
membawa tali segera bertindak untuk mengikat. Dua kawannya mencekal leher
dan pinggang Wiro.
"Bagus ... bagus! Ini yang aku mau!" kata Wiro dalam hati. Begitu tiga orang
itu benar-benar sudah sangat dekat dengan dia, tangannya yang diulurkan dan
baru saja dilingkari tali, meluncur ke depan dan ke samping, merampas golok
yang tersisip di pinggang dua dari tiga anak buah Kumbang Plered. Gerakan
pemuda ini demikian cepatnya. Tiga anak buah rampok dan pemeras itu
menjerit keras ketika dua batang golok di tengah kiri kanan Wiro berkelebat.
Orang yang hendak mengikatkan tali terhuyung-huyung ke belakang sambil
pegangi dadanya yang berlumuran darah disambar golok. Kawannya di sebelah
kiri jatuh tersungkur sambil meraung dan pegangi lengan kirinya yang putus.
Sementara lelaki ke tiga menjerit keras sambil pegangi mukanya yang robek
mulai dari dagu sampai pipi kanan.
Selagi Kuto Simpul, Reso Bondo dan Kumbang Plered serta yang lain-lainnya
terkesiap kaget melihat apa yang terjadi, dua golok di tangan Wiro telah melesat
di udara. 'Satu menancap di pertengahan dada Reso Bondo. Lelaki bermata
jereng ini keluarkan jerit keras, tubuhnya sesaat terhuyung lalu tersungkur
jatuh menelungkup, membuat golok yang menancap di dadanya menembus lebih
dalam hingga tersembul di punggungnya. Nyawanya tak tertolong lagi.
Kumbang Plered yang menyaksikan kematian Reso Bondo dengan mata
melotot sama sekali tidak menyadari kalau golok kedua yang dilemparkan Wiro
menderu ke arahnya. Dia baru tersentak kaget sewaktu senjata itu menderu dan
menancap di lambungnya. Tongkat kayu lepas dari tangannya. Kepala rampok
dan pemeras ini menjerit dua kali lalu roboh. Sesaat tubuhnya tampak
berkelojotan setelah itu tak bergerak lagi)
Dua orang anak buah Kumbang Plered yang tadi menyeret dan mencekal anak
istri Memed Gendut putus nyali. Serta merta mereka lepaskan perempuan dan
dua anaknya itu lalu ambil langkah seribu. Beberapa orang kawan-kawannya
yang juga ikut leleh keberanian mereka segara menghambur melarikan diri.
Memed Gendut segera merangkul istri dan kedua anaknya.
Wiro melangkah mendekati mayat Kumbang Plered. Dari balik pakaian orang
ini dia keluarkan kantong berisi uang miliknya yang dirampas dan melemparkan
benda itu ke dekat Memed Gendut. Lalu Wiro melangkah menghampiri Kuto
Simpul yang saat itu merangkang di tanah tengah berusaha melarikan diri
dalam keadaan kaki patah.
"Janggut kambing! Kau mau lari ke mana!" Wiro membentak dan lelaki
berpakaiarr merah ini rasakan telapak kaki si pemuda menempel di keningnya.
Tubuhnya menggigil saking ketakutan.
"Ampuni selembar jiwaku!" pintanya meratap.
Wiro menyeringai. "Lekas kau terangkan mengapa kau bersama koncokoncomu
yang sudah mampus itu ingin menangkap aku. Tadi kalian
menyebut-nyebut nama Adipati Lumajang. Ada sangkut paut apa kalian dengan
Kebo Penggiring?!"
"Aku .... kami " Kuto Simpul tampak seperti hendak berkelit.
Wiro inja kakinya yang patah hingga lelaki berjanggut kambing ini melolong
setinggi langit.
"Rupanya satu kaki belum cukupi Apa ingin kupatahkan lagi kakimu satu
lagi....?!" sentak Wiro.
"Jangan ... Ampun! Aku akan bicara..."
"Bagus! Apa yang kau ketahui. Awas kalian berani dusta!"
"Tiga hari lalu seorang utusan Kebo Penggiring datang menemui Kumbang
Plered. Keduanya kemudian menemui kami, maksudku aku dan Reso Bondo.
Utusan itu memberi sejumlah uang dan perhiasan dengan perintah agar kami
menangkapmu hidup atau mati...."
Wiro usap-usap dagunya lalu garuk-garuk rambutnya yang gondrong basah.
"Kenapa Adipati Lumajang menginginkan diriku?" tanya Wiro.
"Demi Tuhan! Kalau itu kau tanyakan akupun tidak tahu!" jawab Reso Bondo
lalu mengerang lagi kesakitan.
"Baik kalau begitu. Sekarang mana uang dan perhiasan
yang kau terima dari utusan Adipati Lumajang itu...?"
"Aku tidak membawanya..."
Wiro menyeringai. "Jangan berani berdusta. Beriken uang dan perhiasan itu
padaku! Atau kupatahkan kakimu satu lagi!"
"Ampun! Jangan Ini ambillah!" Dari dalam saku baju merahnya Kuto
Simpul keluarkan sehelai selampai putih yang dipakai membungkus uang dari
perhiasan. Benda itu diserahkannya pada si pemuda.
Wiro menimang-nimangnya sesaat lalu berkata: "Kau boleh p«rgi janggut
kambing. Tapi ingat! Jika kau berani mengganggu pedagang kuda itu dan
keluarganya, dadamu akan kutembus dengan golok seperti yang terjadi dengan
kawanmu! Kau dengar janggut kambing?'"
"Aku ... aku dengar ..." jawab Kuto Simpul. Lalu dengan susah payah dia
merangkang, mencoba tegak tertatih-tatih, melangkah terpincang-pincang
meninggalkan tempat itu.
'Anak muda! Tidak kusangka, kau bukan pemuda biasa rupanya. Aku dan
istriku serta anak-anak mengucapkan tarima kasih "
"Huss!" Lskas berdiri!" sentak Wiro ketika diliatnya Memed Gendut membawa
anak istrinya dan berlutut di hadapannya. "Aku bukan dewa atau Tuhan yang
pantas kau sembah-sembah Dengar, aku akan pergi sekarang. Aku butuh
kudamu. Pilihkan aku baik-baik . . ."
“Kau boleh ambil semua kuda kuda itu!" kata Memed Gendut seraya
berdiri.
Wiro tersenyum dan gelengkan kepala. Seperti katamu tadi aku hanya perlu
dua ekor kuda ..."
Memed Gendut segera memilih dua akor kuda yang besar dan tegap sementara
istrinya disuruh mengambil kantong kulit berisi air. Dua ekor kuda dan kantong
air itu kemudian diserahkan pada Wiro.
Sesaat setelah naik ke atas kuda Wiro memandang pada pedagang kuda itu
lalu berkata: "Sebaiknya kau menukar namamu. Nama Memed Gendut tidak
cocok dengan keadaan dirimu. Dan mungkin nama itu yang selalu membawa sial
bagimu ..."
"Lalu apa nama yang pantas bagiku?" tanya si pedagang kuda.
"Memed Kerempeng!" jawab Wiro. Ditepuknya pinggul kuda yang
ditungganginya. Binatang ini menghambur ke depan. Kuda yang terikat di
sebelah belakang lari mengikut.
Memed Gendut dan anak isttinya tegak memperhatikan kepergian pemuda itu
yang akhirnya lenyap di kegelapan malam,
"Dia mungkin betul Mulai saat ini kuganti namaku jadi Memed Kerempeng!'',
kata si pedagang kuda pula.
"Benar pak membenarkan istrinya. "Nama itu kurasa lebih cocok untukmu. ..
Bukan saja untuk membuang sial, tapi sekaligus guna mengingatkan kita pada
budi besar pemuda itu ... ."

TIGA
TERIKNYA sinar matahari laksana membakar pedataran pasir yang seperti
tak berujung itu. Kuda yang ditunggangi Pendekar 212 Wiro Sableng tak dapat
berlari sekencang yang dikehendaki. Bukan saja panasnya udara membuat
binatang itu menjadi lebih cepat letih, tetapi lapisan pasir seolah-olah
mencengkeram kaki-kaki binatang itu. Keringat dan ludah membuih di sudut
mulutnya. Di sebelah belakang kuda cadangan berlari mengikuti kuda induk
dalam keadaan hampir tak berbeda.
Wiro mengambil kantong kulit yang berisi air dan tinggal setengahnya.
Meskipun rasa haus membakar dada dan tenggorokannya tapi pemuda ini tak
mau meneguk air itu banyak-banyak. Sulit baginya untuk menduga sampai
barapa lama dia akan mengarungi pedataran pasir di tenggara Pegunungan
Tengger itu. Kalau persediaan air habis sedang tujuan masih jauh, bisa-bisa dia
mati kehausan di perjalanan. Wiro menyeka mulutnya dengan belakang telapak
tangan. Tangan yang masi basah iyu diusapkannya ke mulut kuda
Sejauh mata memantang hanya pedataran pasir yang terlihat. Murid Sinto
Gendeng ini mengarahkan kudanya lurus-lurus ke tenggara. Kulitnya terasa
perih oleh sengatan matahari. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat.Kalau saja
bukan untuk memenuhi pemintaan tolong seorang sahabatnya, tidak nanti dia
mau mengadakan perjalanan yang menyengsarakan itu. Selain itu Wiro juga
sadar, keselamatan dan kehormatan diri seorang gadis jerita harus dibelanya.
Terbayang kembali pertemuannya dengan orang tua itu sekitar dua minggu lalu
di bukit Tumbalsari.
Hari itu Wiro melintasi bukit tersebut dan seperti kebiasaannya sambil
bersiul-siul membawakan lagu tak menentu. Mendadak terdengar suara
membentak Demikian kerasnya hingga bukit itu membahana di liang telinga si
pemuda berdenyut.
"Keparat setan alas! Siapa yang bersiul-siul membuat berisik belantara
mengganggu ketentraman orang!"
Wiro terkesiap kaget, hentikan langkah dan memandang ke atas pohon besar
sebelah kanan dari arah mana tadi datangnya suara bentakan itu. Namun tak
seorang pun tampak di atas sana. Wiro tegak berdiam diri sesaat. Kemudian
kembali dia mengukirkan siulan. Pendek saja tapi keras karena disertai
pengerahan tenaga dalam. Suara siulan itu bergema beberapa lamanya di atas
bukit namun sirna tertindih oleh bentakan: "Edan! Sombong amat tidak
perdulikan peringatan orang! Anak muda tak tahu diri kau mengandalkan apa?!"
Wiro jadi jengkel dan balas membentak.
"Bukit dan rimba oeiantara ini bukan milikmu. Disini diam berbagai binatang,
mendekam segala setan gentayangan. Mengapa kau mengambil sikap sebagai
pemilik tunggal? Jika tak ingin terganggu mengapa berada di sini? Bicara besar
tapi tak berani unjukkan tampak!"
Terdengar suara gelak mengekeh yang membuat liang telinga murid Sinto
Gendeng terngiang-ngiang; Suara tawa itu demikian dekatnya dan keras, namun
tetap saja Wiro tak dapat mengetahui di mana manusia yang tertawa itu berada!
"Jika kau mau melihat tampangku, mari naik ke atas sini!"
Wiro mendongak ke atas. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendesir halus.
Wiro cepat mengambil sikap waspada karena menyangka ada senjata rahasia
yang menyerangnya. Tapi tak kelihatan apa-apa. Tahu-tahu sebentuk benang
putih yang sangat halus, berkilau kilau oleh sentuhan sinar matahari yang
menembus di sela-sela daun pepohonan, meluncur cepat ke arahnya. Sebelum
dia bisa berbuat apa-apa benang putih itu telah menjirat lehernya. Tidak terlalu
kencang namun cukup membuat nafasnya menyengal.
"Setan alas!" maki Wiro Sableng. Secepat kilat dia pergunakan tangan
kanannya menjepit benang itu. Tapi astaga! ternyata dia tidak mampu memutus
benang yang begitu alot itu. Wiro coba mengingat-ingat pada masa beberapa
tahun yang silam. Dia seperti pernah melihat benang halus itu sebelumnya.
Waktu itu si pemilik benang melibat pinggangnya. Namun dengan mudah
diputusnya. Apa mungkin benang dan pemiliknya saat ini bukan orang yang
dulu?
Selagi pemuda itu berpikir-pikir tiba-tiba dia merasakan satu sentakan keras.
Lehernya yang tergulung benang halus tertarik kuat dan tubuhnya terangkat
laksana terbang ke atas sebatang pohon tinggi yang berada dua tombak di
hadapannya. Wiro merasakan batang lehernya seperti digorok oleh benang halus
itu. Secepat kilat dia gerakkan tangan kanannya ke pinggang. Sesaat kemudian
berkiblatlah sinar putih menyilaukan disertai suara menderu seperti suara
ribuan tawon mendengung.
Crass!
Benang halus putih yang menjirat lehernya putus. Terlepas dari ikatan
benang aneh itu sebenarnya Wiro kini bisa jatuhkan diri kembali ke tanah. Tapi
sebaliknya pemuda ini malah terus melesatkan diri ke atas pohon, jungkir balik
dua kali berturut-turut, dalam kejap dia sudah menyelinap dan tegak di salah
satu cabang pohon. Hal ini dilakukannya karena dia sudah merasa yakin, orangorang
yang tadi menjiratnya sembunyi di pohon itu, di balik kerapatan daundaun.
"Ha ... ha .. .ha! Rupanya si nenek peot Sinto Gendeng itu benar-benar telah
mewariskan Kapak Maut Naga Geni 212 pada muridnya!"
Kata-kata yang disertai tawa itu membuat Wiro Sableng terkesiap kaget.
Ternyata orang mengenali kapak yang masih tergenggam di tangan kanannya.
Lebih dari itu malah juga mengetahui siapa gurunya! Tanpa pikir panjang Wiro
babatkan senjata mustika itu ke depan.
Kraak ... kraak!
Byuuuur !
Dua cabang besar terbabat putus. Ranting-ranting pohon berikut daundaunnya
remuk den berguguran ke bawah. Setengah dahan pohon itu kini
tampak gundul! Dan di salah satu cabang kecil kini tampak duduk seorang
kakek berjanggut putih, berpakaian selempang kain putih, tertawa mengekeh,
memandang pada Wiro sambil kedip-kedipkan mata kirinya.
Pendekar 21? Wiro Sableng cepat putar Kapak Maut Naga Geni 212 untuk
menghantam. Yang hendak diserang tetap duduk tenang-tenang. Mendadak
Wiro tahan gerakannya.
"Aih! Benar si tua bangka dulu itu!" seru Wiro dalam hati. Perlahan-lahan dia
turunkan tangan kanannya lalu simpan senjatanya di balik pinggang.
"Dewa Tuak!" seru Wiro kemudian
Orang tua itu kembali tertawa panjang. Janggutnya yang putih berkibarkibar
di tiup angin. Sambil mengelus janggutnya dia berkata: "Enam tahun aku
mematangkan benang suteraku. Ternyata tak mampu menahan tebasan
kapakmu! Percuma saja menghabiskan waktu. Tapi aku senang kau masih
mengenali tua renta ini. Apa kabarmu anak muda....?" Orang tua itu yang
berjuluk Dewa Tuak — merupakan tokoh silat terkemuka di delapan penjuru
angin. Usianya jauh lebih tua dari Eyang Sinto Gendang, Di pangkuannya
ada sebuah tabung bambu besar. Sebuah tabung yang sama tergantung di
belakang punggungnya. Si orang tua angkat bumbung bambu yang
dipangkuannya, mendekatkan ujungnya ke mulut. Lalu: gluk. .gluk ... gluk .. .
Dia meneguk tuak harum yang ada dalam bumbung bambu itu sampai
berlelahan ke pipi dan dagunya.
"Aku baik-baik saja Dewa Tuak. Bagaimana dengan dirimu bertanya Wiro.
Dewa Tuak turunkan bumbung bambunya. Sambil geleng-geleng kepala dan
unjukkan wajah sedih orang tua ini berkata: "Aku sedang sial! Seseorang telah
mengkhianati diriku. Eh, kau masih ingat pada murid perempuanku bernama
Anggini? Yang tempo hari ingin ku jodohkan padamu. Tapi kau terlalu sombong
dan menampiknya..."
"Maafkan aku Dewa Tuak. Aku sama sekali tidak sombong. Hanya saja untuk
urusan jodoh saat itu aku belum bisa memikirkan . .."
"Lalu sekarang apakah kau sudah memikirkan?" tanya Dewa Tuak.
"Masih belum " sahut Wiro,
"Tapi kau tidak melupakan muridku itu, bukan?
"Tentu saja tidak ..."
"Bagus! Hanya saja dia ditimpa malapetaka saat ini. Dan itulah sebabnya aku
sengaja mencegatmu disini “
"Apa yang telah terjadi dan mengapa kau mencegatku di sini, orang tua?"
bertanya Wiro Sableng. Dia kini duduk di atas cabang di bawah cabang kecil
yang diduduki Dewa Tuak.
"Beberapa tahun sebelum aku mengambil Anggini jadi murid, aku pernah
mempunyai seorang murid lain. Seorang pemuda bernama Penging. Ternyata
kemudian kuketahui bahwa pemuda itu bukan seorang manusia baik. Hatinya
sangat culas. Selain itu dia banyak berhubungan dan bergaul dengan orangorang
jahat. Setelah kuberi nasihat beberapa kali dia selalu mengabaikan,
akhirnya aku mengambil keputusan, tidak lagi menganggap nya sebagai murid.
Dia kusuruh meninggalkan pertapaan dan kembali ke kampungnya. Kuketahui
kemudian Penging tidak kembali ke kampung, tapi bertualang bersama
manusia-manusia jahat. Membuat keonaran di mana-mana, membunuh dan
merampok. Aku menyesal telah mengambilnya jadi murid, apalagi mengingat
hampir seluruh ilmu silatku sudah kuturunkan padanya.
Tiga bulan lalu tiba-tiba dia muncul di pertapaanku, berlutut dan menangis.
padaku diakuinya semua kesesatan, kejahatan dan segala dosa perbuatannya.
Dia mengatakan telah insaf dan tobat. Ingin kembali ke jalan yang benar. Ingin
mengabdikan diri lagi menjadi muridku, bahkan katanya ingin jadi pertapa..."
"Lalu, apa kau menerima permintaannya itu. Dewa Tuak?" tanya Wiro.
Si kakek menggeleng. "Sekali aku tidak percaya pada seseorang, apapun
janjinya tak akan lagi mau kudengar. Dia kusuruh pergi. Saat itu hari sudah
malam. Karena kasihan aku hanya memperbolehkannya menginap dan besok
pagi-pagi harus sudah meninggalkan pertapaan. Pagi hari ketika aku bangun
Penging telah lenyap. Bersama lenyapnya orang itu, lenyap pula sebuah buku
milikku yang sangat berharga. Jelas manusia keparat itu telah mencurinya.
Rupanya itulah sebenarnya kedok kedatangannya
"Kalau aku boleh bertanya, buku apakah yang dicuri bekas muridmu itu?"
"Sebuah buku tipis terdiri dari tiga halaman. Buku ini berusia lebih dari
seratus tahun. Lebih tua dari umurku dan merupakan warisan guruku.
Halaman pertama berisi pelajaran ilmu silat kuna yang merupakan inti sari dari
ilmu silat yang kumiliki dan yang kuajarkan pada murid-muridku. Siapa yang
menguasai ilmu itu dia akan menjadi seorang luar biasa. Jika digunakan untuk
kesesatan, sulit menumpasnya.
Halaman kedua berisi dasar-dasar penghimpunan dan pengerahan tenaga
dalam. Ini juga merupakan ilmu yang berbahaya jika dipakai untuk kejahatan.
Lalu halaman terakhir berisi sejumlah ilmu pengobatan ampuh berdasarkan
penusukan urat-urat syaraf dan darah. Sebenarnya buku itu akan kuwariskan
pada muridku Anggini. Tapi kini segala sesuatunya sudah kapiran. Bangsat itu
keburu mencurinya!"
"Muridmu yang bernama Anggini itu sendiri sekarang berada di mana....?"
tanya Wiro.
"Itulah yang menjadi pikiranku pula," sahut Dewa Tuak seraya usap-usap
janggut putihnya. "Tiga hari setelah Penging mencuri kitab itu, Anggini muncul.
Langsung saja padanya kuberikan tugas untuk mengejar Penging.
Dibandingkan dengan lelaki itu tingkat kepandaian Anggini memang lebih tinggi.
Namun yang membuatku kawatir ialah sampai sebegitu jauh tak ada kabar dari
Anggini. Malah kemudian dari seorang sahabat kuketahui bahwa sebenarnya
Penging telah menjadi orang besar sejak dua tahun lalu. Entah bagaimana
ceritanya dia kini menjadi Adipati Lumajang dan namanya diganti menjadi Kebo
Penggiring. Dalam pengejarannya Anggini sampai ke Lumajang. Namun di sana
dia justru kena ditangkap oleh orang-orang Kebo Penggiring. Kabarnya jika
dalam batas waktu yang ditentukan gadis itu tidak mau menuruti kehendak
Kebo Penggiring untuk mengawininya, Anggini akan dirusak kehormatannya
lalu digantung dengan tuduhan hendak memberontak pada Kerajaan ...."
"Gila betul!" ujar Wiro sambil garuk-garuk kepala.
"Lebih dari gila!" menukas Dewa Tuak.
"Sudah begitu kejadiannya mengapa kau tidak langsung turun tangan?"
bertanya Wiro.
"Itulah memang tadinya yang aku rencanakan. Namun, ada beberapa
pertimbangan. Di usia yang sudah dekat liang kubur ini, aku tak ingin lagi
mencari keributan: Aku ingin hidup tenteram tanpa melakukan kekerasan
apalagi sampai mengalirkan darah. Semua itu akan menjadi sebab musabab
dendam kesumat. Kudengar Kebo Penggiring dekat dengan Keraton. Berarti aku
akan berhadapan dengan tokoh-tokoh tertentu yang sebenarnya kuketahui
adalah sahabatku ..."
"Kalau begitu kau minta saja pertolongan mereka."
"Tidak semudah itu. Manusia-manusia yang hidup di kota besar mengukur
sesuatu tindakan dengan nilai untung rugi. Tak perduli apakah yang minta
bantuan seorang sahabat atau bukan. Urusan macam begini belum apa-apa
akan membuatku jengkel dan marah. Mauku semua manusia macam begitu
layak dipercepat menghadap malaikat maut. Tapi ini berarti akan muncul
musibah besar "
"Lalu apa rencanamu Dewa Tuak?"
"Aku mendapat petunjuk dari seorang tua yang biasa dikenal dengan
panggilan Si Segala Tahu. Kau kenal padanya....?"
"Kenal sekali!" jawab Wiro. "Aku beberapa kali mendapat petunjuknya."
"Nah, dialah yang memberi tahu kalau saat ini kau berada di daerah ini. Dia
pula yang menasihatiku agar aku menerimamu, menuturkan apa kesulitanku
lalu meminta agar kau menolongku
"Ah ....!" Wiro garuk-garuk kepala.
Dewa Tuak menatap paras pemuda itu sesaat lalu berkata; "Jika kau tak mau
memandangku dan keberatan menolongku, kau harus sudi memandang Si Segala
Tahu
Wiro terdiam.
"Aku menunggu jawabmu, anak muda."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Wiro akhirnya.
"Pergi ke Lumajang. Selamatkan Anggini. Dapatkan kitab yang dicuri. Hanya
itu "
"Hanya itu " mengulang Wiro dalam hati. Tetapi dia yakin bahwa persoalan
yang bakal dihadapinya bukan hanya itu. Bukankah Dewa Tuak tadi telah
menerangkan bahwa sebagai Adipati, Kebo Penggiring memiliki kawan-kawan
yang dekat dengan Keraton, yang berarti adalah orang-orang berkepandaian
tinggi dan sekaligus memiliki kekuasaan?!
"Aku tahu kau mampu melakukannya Wiro. Jika aku tahu kau tak mampu,
aku tak akan meminta bantuanmu . . . Dan kalau kau memang ingin menolong,
makin cepat kau berangkat ke Lumajang, makin baik . . . ."
"Kalau seorang tua dan sahabat sepertimu berkata begitu, apa lagi yang harus
kulakukan selain membantu "
"Terima kasih anak muda ..." kata Dewa Tuak dan kali ini-sambil tersenyum.
"Ini kau ambillah bumbung yang satu ini!" Kakek itu lalu mengambil bumbung
tuak yang tergantung di punggungnya lalu melemparkan benda itu kepada Wiro.
"Terima kasih, aku tak ingin jadi mabuk!" kata Wiro. Namun tabung bambu
berisi tuak itu sudah melayang ke arahnya. Ketika dia terpaksa menangkapnya,
memandang ke atas Dewa Tuak sudah tak ada lagi di atas cabang pohon.
Pendekar 212 kembali garuk-garuk kepala. Akhirnya didekatkannya juga ujung
bambu ke bibirnya lalu meneguk tuak kayangan yang rasanya memang manis
sedap menghangatkan.
*******************
Wiro meneguk lagi air dalam kantong kulit yang dibawanya. Memandang ke
depan dia masih belum melihat apa-apa. Seolah-olah pedataran pasir di
tenggara Pegunungan Tengger itu tidak berujung.
"Perjalanan gila!" maki murid Sinto Gendeng dalam hati. "Kalau tidak
memandang kakek tua peminum tuak itu, dan jika tidak menimbang
keselamatan muridnya tak bakal aku melakukan ini!" Wiro meneguk sekali lagi
air dalam kantong. Ketika untuk ke sekian kalinya dia memandang ke depan,
samar-samar di kejauhan dilihatnya sebuah titik kecil, seperti terletak tepat di
atas katulistiwa. Semakin dekat dia ke arah titik itu, semakin besar tampaknya
dan dalam jarak kurang dari lima puluh tombak Wiro mengetahui benda yang
tadi terlihat berupa titik ternyata adalah sesosok tubuh manusia yang
menggeletak menelantang di atas pasir.
Orang ini masih muda, berpakaian dan berikat kepala putih-putih. Tubuhnya
tinggi dan kekar. Namun saat itu tubuh yang kekar itu tampak tak berdaya.
Kedua matanya terpicing. Wajah dan tubuhnya hampir berselimut pasir sedang
bibirnya kelihatan kering.
"Ini bukan setan pedataran pasir!" kata Wiro membatin. "Tapi mengapa
manusia ini berada di sini seperti ini? Masih hidup atau sudah mati?" Wiro
turun dari kudanya. Dia memegang lengan pemuda yang terbujur di pasir itu.
Terasa panas. Juga terasa denyutan nadi, tanda masih hidup. "Sobat tak
dikenal, bangunlah! Apa kau mau berkubur di tempat ini?!" Wiro menegur
dengan suara keras. Tubuh di atas pasir tidak bergerak,Wiro ambil kantong
airnya lalu sedikit demi sedikit tuangkan air ke atas bibir yang kering. Sesaat
kemudian bibir itu tampak bergerak. Wiro tuangkan lebih banyak air. Dengan
tangan kirinya dia menyeka pasir yang menutupi wajah si pemuda. Ternyata
pemuda itu berwajah tampan. Sesaat kemudian mata yang terpejam membuka
perlahan-lahan.
"Apakah kau malaikat maut yang datang menjemputku ....?" Keluar suara
parau dan sangat perlahan dari mulut pemuda itu.
Kalau di tempat lain Wiro mungkin akan tertawa bergelak mendengar katakata
itu. Dia tuangkan lebih banyak air lalu mendudukkan si pemuda di tanah
dan menahan punggungnya dengan lutut agar tidak rebah.
"Aku bukan malaikat maut. Justeru aku ingin bertanya mengapa kau enakenakan
tidur di gurun pasir ini....!"
Mata si pemuda membuka lebar. Mulutnya menyeringai. "Sialan!" ujarnya.
"Siapa yang enak-enakan tidur. Terlambat kau muncul di sini aku sudah jadi
mayat kering "
"Aku membawa kuda cadangan. Apakah kau bisa berdiri lalu ku bantu naik
ke punggung binatang itu ...."
"Aku harus melakukan apa yang kau katakan. Tapi beri lagi aku minum ... ."
Setelah minum, dengan ditolong oleh Wiro pemuda itu berdiri. Sesaat
pemandangannya berkunang-kunang, tubuhnya seperti hendak terbanting. Wiro
cepat memegang bahunya.
"Manusia-manusia keparat. . .!"
"Eh, siapa yang kau maki sobat?" tanya Wiro.
"Orang-orang itu. Mereka membokongku. Merampas dua senjata mustika
milikku. Melarikan dan meninggalkan aku di pedatanm pasir ini !
"Siapa mereka .. ;?"
"Aku tidak kenal. Mungkin bangsa perampok. Mereka memiliki kepandaian
yang tinggi. Sobat, kau telah menolongku. Aku berterima kasih. Kau hendak
menuju ke manakah ...?"
"Lumajang," sahut Wiro.
"Kalau begitu kita pergi sama-sama. Manusia-manusia keparat itu pasti juga
menuju ke sana."
"Namaku Wiro Sableng. Kau siapa?" tanya Pendekar 212.
"Namamu aneh. Apakah kau benar-benar sableng hingga orang tuamu
memberikan nama begitu ...?
”Namaku Mahesa Kelud."
Wiro tersenyum. "Senjata apa yang mereka rampas darimu?" tanyanya
kemudian.
"Sebilah Pedang Sakti dan sebilah Keris Ular Emas ''
"Hemmrn.. Nasibmu memang malang. Mudah- mudahan saja kau menemukan
para pencuri itu ..."
"Bukan hanya menemukannya. Tapi juga membunuh mereka semua!" jawab
Mahesa Kelud dengan tangan terkepal, lalu naik ke atas kuda cadangan yang
dibawa Wiro. (Siapa adanya Mahesa Kelud dapat pembaca ikuti dalam seria!
Mahesa Kelud Pedang Sakti Keris Ular Emas)

EMPAT
KEDAI Itu berbentuk pendopo terbuka dan cukup besar. Karena merupakan
satu-satunya rumah makan di daerah tenggara maka sepanjang siang tampak
selalu ramai. Apalagi terletak di Gucialit, sebuah kota kecil pusat persimpangan
beberapa jalan di selatan Tengger.
Matahari pagi baru saja naik ketika kedua orang muda itu sampai di kedai
dan langsung masuk. Tubuh serta-pakaian mereka yang kotor penuh debu
membuat pemilik kedai segera menyongsong, bukan untuk melayani tapi untuk
ajukan pertanyaan.
"Dua pemuda asing, apakah kalian punya uang untuk makan dan minum di
kedaiku ini. . . .'"
Wiro terkesiap tapi juga mendongkol marah. Dia memang sama sekali tidak
punya uang lagi karna sudah diberikan pada Memed Gendut untuk pembeli
kuda. Sebaliknya Mahesa Kelud yang setengah mati keletihan dan kelaparan
belalakkan mata dan membentak:
"Jangankan makanan atau minuman, kepalamu akan kubeli! Jangan banyak
tanyai Hidangkan makanan dan teh hangat!"
"Uangmu dulu, orang muda!" kata pemilik kedai sambil ulurkan tangan.
Wiro tak dapat menahan kesalnya. Dia berbisik pada Mahesa Kelud; "Kau
punya uang . . . Lekas berikan padaku
Mahesa Kelud yang hendak menampar pemilik kedai itu batalkan niatnya.
Dengan rasa tidak mengerti dia berikan dua keping uang pada Wiro. Begitu
menerima uang itu Wiro secepat kilat sumpalkan ke dalam mulut pemilik kedai.
"Ini uangnya. Kau makanlah!"
Tercekik dan megap-megap pemilik kedai itu masuk ke dalam sementara Wiro
dan Mahesa Kelud duduk di bangku panjang. Seorang pelayan datang
membawa makanan dengan sikap ketakutan. Dua pemuda ini segera
menyantap dengan cepat. Selagi menggerogot sepotong ikan goreng, Mahesa
Kelud layangkan pandangannya berkeliling. Tiba-tiba saja pemuda ini
bantingkan ikan goreng itu ke meja.
"Sobat, ada apa? Kau ketulangan . . . Ikannya tidak enak?" tanya Wiro.
Mahesa menggoyangkan kepalanya ke arah sudut kedai di mana tampak
duduk tiga orang lelaki berpakaian bagus yang baru saja selesai makan dan kini
tengah menghangatkan diri dengan secangkir kopi. Di bagian lain masih
terdapat kira-kira setengah lusin tamu. Tiga orang tamu berpakaian bagus itu
duduk membelakang dan agak jauh hingga tidak melihat kedatangan Mahesa
dan Wiro, juga tidak mengetahui pertengkaran dengan pemilik kedai tadi
"Siapa mereka . . .?" tanya Wiio.
"Tiga dari lima bangsat perampok yang menghadangku di pedataran pasir ..."
jawab Manesa Kelud seraya berdiri.
"Cara mereka berpakaian seperti hartawan, bukan seperti rampok ...."
"Hartawan atau rampok yang pasti mereka akan rasakan tanganku saat ini
juga!"
Habis berkata begitu Mahesa Kelud ambil sebuah kursi di samping kanannya.
Kursi ini kemudian dilemparkannya ke arah tiga orang yang duduk
membelakang.
Kursi masih melayang setengah jalan tapi tiga orang berpakaian bagus yang
duduk membelakang serentak sudah mencelat dari tempat masing-masing,
pertanda bahwa mereka memiliki naluri kewaspadaan yang tinggi. Kursi yang
dilemparkan menghantam tiang kedai dan hancur berantakan. Tiga orang itu
cepat membalik. Jelas rasa terkejut membayang di wajah mereka ketika melihat
Mahesa Kelud melangkah mendekati. Terkejut karena menyangka pemuda itu
pasti sudah menemui kematian di panggang sinar matahari di pedataran pasir.
Para pengunjung kedai yang lain saat itu telah berdiri dan menyingkir
menjauh, menyaksikan apa yang bakal terjadi selanjutnya. Sementara Wiro
Sableng setelah memperhatikan sesaat, seperti tak acuh apa yang terjadi
melanjutkan makannya dengan lahap.
Lelaki berpakaian bagus di sebelah tengah usap usap dagunya. Dia melirik
pada kedua temannya lalu kembali memandang ke arah Mahesa yang kini tegak
empat langkah di hadapannya dan kawan-kawan.
Mahesa menuding tepat-tepat ke arah ketiga orang itu dengan telunjuk kiri.
"Sebelum pembebasan kulakukan lekas kalian kembalikan pedang serta keris
milikku yang kalian rampas. Juga kuda putihku!. Tiga orang di hadapan
Mahesa sama-sama menyeringai.
"Pemuda kesasar, pagi-pagi begini kau sudah bicara ngacok tak karuan.
Kenal pun tidak. Tampang burukmu baru kami lihat saat ini. Dan kau bicara
tentang segala macam pedang serta keris! Gila!'' Yang bicara adalah lelaki di
sebelah tengah.
"Hemm . .. Kau dan teman-teman pandai bersandiwara! Bagus! Teruskansandiwara
kalian sampai keliang kubur!"
Mahesa berkelebat ke depan. Tangan dan kakinya menebar serangan. Pemuda
ini memiliki kepandaian silat dan tingkat tenaga dalam yang bukan
sembarangan: Gurunya Embah Jagatnata alias Simo Gembong pernah
menggegerkan dunia persilatan di tanah Jawa.
Di samping, itu dia mendapat tambahan kepandaian dari seorang tokoh yang
dikenal dengan nama Karang Sewu. Ditambah pula ilmu silat langka yang
didapatnya dari seorang tokoh luar biasa bernama Suara Tanpa Rupa. Tidak
mengherankan kalau serangan yang dilancarkan Mahesa mendatangkan suara
angin deras.
Tiga lawan yang mendapat serangan berpencar. Gerakan mereka bukan saja
cepat sekali tetapi juga enteng. Ternyata tiga manusia inipun memiliki
kepandaian tak rendah. Kalau tidak tak mungkin mereka dan dua kawan
lainnya sanggup membokong Mahesa di pedataran pasir. Ketiga orang ini
sebenarnya bukanlah bangsa perampok. Mereka merupakan tokoh-tokoh silat
dari Kotaraja yang sengaja melakukan perjalanan atas permintaan seseorang di
Lumajang.
Melihat serangan pertamanya menemui kegagalan, Mahesa Kelud kertakkan
rahangnya. Sambil menendang meja makan dia balikkan tubuh dan kini
berkelebat menghantam ke arah lawan di ujung kiri.
Sambil mengunyah nasi dalam mulutnya Wiro Sableng geleng-gelengkan
kepala melihat perkelahian itu. Diam-diam dia kagum melihat gerakan
menyerang Mahesa tadi. Namun tiga lawannya ternyata memiliki kepandaian
tidak rendah, membuat bisa-bisa pemuda itu menemukan nasib jelek.
Mahesa menghantam dengan jotosan mengandung aji "Karang Sewu" atau
pukulan batu karang yang sanggup menghancurkan benda keras
bagaimanapun. Lawan yang diserang tampaknya sudah mencium keganasan
pukulan itu. Sambil melompat ke belakang dia bersuit keras. Suitan ini seolaholah
isyarat bagi kedua kawannya karena saat itu juga dua orang lainnya
datang menyerbu dari kiri kanan. Masih mengandalkan pukulan batu karang di
kedua tangannya.Mahesa Kelud menjotos ke kiri dan ke kanan, sambut
serangan dua lawan. Seperti kawannya tadi, dua orang ini melompat ke
belakang seraya keluarkan suara suitan nyaring. Bersamaan dengan itu orang
yang berada di sebelah depan menghantam ke depan dengan satu pukulan
tangan kosong mengandung tenaga dalam penuh!
Mahesa sengaja sambut pukulan lawan dengan maju menyongsong sambi!
melintangkan tangan kiri, membabat lengan orang.
"Jangan!" teriak salah seorang ketika melihat kawannya yang memukul itu
sengaja mengadu kekuatan dengan saling bentrokkan lengan. Tapi terlambat.
Kraaaakk!
Tulang lengan orang di depan Mahesa Kelud bukan saja patah tetapi juga
hancur hingga bagian sebelah buawah terkuntai-kuntai mengerikan. Jeritan
setinggi langit keluar dari mulutnya. Tubuhnya jatuh duduk di lantai kedai.
Dengan tangan kirinya dia cepat-cepat menotok urat besar di pangkal bahu
hingga kebal rasa. Untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa menjelepok
begitu rupa.
"Pukulan karang sewu!" seru lelaki di samping kanan Mahesa, yang membuat
murid Emban Jagatnata ini terkejut karena tak menyangka kalau orang
mengenali ilmu pukulannya. Wajah dua orang lawan tampak berubah. Setelah
saling lemparkan pandangan yang mengandung isyarat keduanya gerakkan
tangan ke balik pakaian. Sesaat kemudian mereka telah mengeluarkan senjata.
Yang di sebelah kanannya memegang sebilah clurit besar hampir berbentuk arit
Kawannya mencekal sebatang tongkat terbuat dari kuningan yang memancarkan
sinar redup tapi angker.
Sebelumnya orang-orang itu bersama dua kawannya yang lain yang saat itu
tak kelihatan di tempat itu telah berhasil membokong Mahesa di pedataran
pasir Tengger. Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka memiliki
kepandaian tinggi.. Kini dengan senjata di tangan tentunya dua lawan tersebut
lebih banyak berbahaya. Tetapi Mahesa Kelud percaya diri dan tidak gentar
menghadapi. Bila dua lawan itu maju menyerbu dia siap menyambut dengan
jurus kematian.
Namun di saat itu justru terdengar suara membentak.
"Orang-orang tak tahu diri! Pengecut tengik! Su- dah main keroyok sekarang
pakai senjata pula! Tangan kosong harus dihadapi dengan tangan kosong!
Itu namanya pendekar sejati!"
Dua orang lawan Mahesa Kelud tidak sempat menyelidik siapa yang
membentak itu. Dua buah piring tiba-tiba melesat ke arah mereka. Sebelum
keduanya sempat berkelit, lengan masing-masing sudah dihantam piringpiring
itu. Piring pecah, makanan yang masih ada di atasnya berhambur
mengotori pakaian dan muka kedua orang itu. Keduanya mengeluh tinggi dan
karena tak tahan menanggung sakit terpaksa lepaskan senjata masing-masing
sementara mereka dapatkan lengan mereka berlumuran darah akibat hantaman
piring.
Mahesa Kelud melirik ke arah meja di mana Wiro Sableng duduk. "Sableng!"
katanya sambil menyeringai. "Jurus piring terbangmu boleh juga! Tapi kita
kehilangan dus piring nasi dan lauknya!"
"Tak usah kawati r! Kunyuk-kunyuk itu yang akan membayar!" sahut Wiro.
"Makan tanpa minum tentu tak sedap! Nah silahkan meneguk air .. ." Habis
berkata begitu Pendekar 212 Wiro Sableng lemparkan dua cangkir berisi air ke
arah dua pengeroyok. Meskipun mereka sempat mengelak selamatkan kepala
tapi air dalam cangkir besar itu telah lebih dulu mengguyur kepala keduanya.
Marah besar karena merasa dipermainkan, orang di sebelah kanan menerjang
dengan satu tendarfgan ke arah perut Mahesa sementara kawannya berkelebat
cepat memungut clurit besar dan tongkat kuningan. Namun dia hanya sempat
mengambil tongkat kuningan karena sebelum dia berhasil memegang hulu
clurit, Wiro Sableng sudah melompat ke hadapannya kirimkan tandangan ke
arah pentatnvai
Wutt
Tongkat kuningan memapas deras kaki yang datang menendang. Namun
hanya menghantam tempat kosong karena di saat yang bersamaan Wiro melesat
ke atas sambil hunjamkan tumit kirinya ke arah bahu kanan lawan.
Kraak!
Tulang bahu itu patah. Tongkat kuningan lepas dan pemiliknya jatuh di lantai
kedai, berguling-guling sambil berteriak kesakitan, lalu tergelimpang dekat
sebuah jambangan tanah liat.
Melihat kejadian ini kawannya yang menghadapi Mahesa Kelud jadi terkesiap.
Sebelumnya dia memang telah mempreteli Mahesa secara mudah. Tapi itu
dilakukan bersama dua orang kawannya yang memiliki kepandaian sangat
tinggi. Kini tanpa dua kawan itu dan setelah menyaksikan dua kawannya yang
ada di situ cidera berat, nyalinya menjadi lumer. Tanpa pikir panjang dia
menghambur ke luar kedai.
"Ho .. .ho! Cacing tanah pengecut! Kau mau lari ke mana!" teriak Mahesa Kelud
mengejar. Tapi dua buah senjata rahasia berbentuk lempengan besi hitam
menyambutnya. Mahesa menghantam dengan pu- kulan tangan kosong. Dua
senjata rahasia mental dan menancap di atas loteng kedai. Ketika hendak
mengejar kembali, orang yang lari telah lenyap. Di kejauhan terdengar suara
kuda dipacu.
Mahesa Kelud kepalkan tangan kanan. Dia melangkah mendekati orang yang
patah tulang bahunya. Sementara Wiro menyeret kawannya yang patah tangan
lalu melemparkannya ke dekat si patah bahu. Orang lain yang ada di kedai itu,
termasuk pemilik dan para pelayan tak ada satupun yang berani bergerak.
Mahesa Kelud injak tulang bahu yang patah hingga orang itu menjerit
kesakitan.
"Sakit ?!" tanya Mahesa Kelud mengejek.
"Sakit... Sakit sekaliiiii" jawab orang itu.
"Bagus! Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan! Jika kau tidak mau
menjawab dengan benar, tulang bahumu satu lagi akan aku hancurkan!"
"Jangan! Jangan lakukan itu. Katakan apa yang ingin kau ketahui. .. ." ratap
orang itu ketakutan.
"Pertama di mana sepasang senjata mustika milikku serta kuda putihku
kalian sembunyi kan?!" tanya Mahesa.
"Kami.... kami tidak menyembunyikan. Dua orang kawan kami membawa
kuda putih itu. Juga keris dan pedang merah
"Di mana mereka sekarang?"
"Turut penjelasan keduanya mereka pergi ke Lumajang," menerangkan si
hancur bahu.
"Lumajang! Di mana aku harus mencari mereka di sana?" tanya Mahesa lagi.
"Keduanya pasti ke Kadipaten. Menemui Adipati Kebo Penggiring ...."
"Apakah kalian berlima orang-orang Adipati itu?" Wiro yang ajukan
pertanyaan.
"Bukan . . . kami bukan orang-orangnya. Kami hanya sahabat yang diminta?
toiong
'Dimintai tolong apa? Apa Adipati yang menyuruh kalian menghadang dan
merampokkku di pedataran pasir Tengger "
"Hal itu aku tidak jelas”
"Jangan berdusta!" ancam Mahesa Kelud lalu kaki kanannya menginjak
bahu yang patah hingga orang itu menjerit setengah mati.
"Aku tidak berdusta ..." teriaknya.
Lelaki yang patah tandan berusaha meyakinkan.
"Tamanku itu tidak berdusta. Seseorang datang pada kami membawa uang
dan memberi pekerjaan. Kami harus menghadang dan membunuh seorang
pemuda berambut gondrong, berpakaian putih-putih yang akan melintas
pedataran Tengger menuju Lumajang. Kami berlima menemui kau. Ternyata
bukan kau orang yang dimaksudkan. Tapi karena melihat kau membawa
kuda bagus serta membakar senjata sakti maka kami membokongmu lalu
meninggalkan di pedataran pasir
Mahesa melirik ke Whh Wiro Sableng yang berdiri sambi! garuk-garuk kepala.
"Berarti sebenarnya akulah yang kalian tuju .. ." kata murid Sinto Gendeng itu.
"Benar.. .'.Mungkin sekali. Ciri-ciri kalian hampir sama..." jawab si patah
lengan.
"Kenapa kalian diperintahkan membunuhku?"tanya Wiro.
"Itu kami tak tahu. Utusan itu tidak menjelaskan apa-apa."
"Juga tidak menjelaskan siapa yangg menyuruhnya..”
Yang ditanya tak menjawab.
Wiro angkat kaki kanannya lalu dihantamkan kebawah.
Kraak!
"Jangan ... .1 Jangan hancurkan kakiku ....!"jerit orang itu.
"Terserah padamu. Hancur kaki atau bicara ..."
"Aku ... aku akan bicara ...." katanya.
"Buka mulutmu!"
Terus terang, aku tak tahu siapa di belakang utusan itu. Namun aku
menduga, dia diutus oleh Adipati Kebo Penggiring. Hanya itu yang aku ketahui.
Hanya itu "
Wiro berpaling pada Mahesa Kelud. "Bagaimana pendapatmu?" tanyanya.
"Aku harus mengejar pencuri kuda dan senjata itu ...." sahut Mahesa Kelud.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang juga!" ujar Wiro Sableng. Lalu dia
membungkuk dan menggeledah kedua orang itu.
"Apa yang kau cari?" tanya Mahesa Kelud..
'Sepasang senjata milikmu! Ternyata mereka memang tidak
menyembunyikannya. Orang-orang seperti mereka tidak boleh dipercaya
begitu.saja. Segala ucapannya harus diselidik "

LIMA
WIRO SABLENG dan Mahesa Kelud memacu kuda masing-masing melewati
daerah berbukit-bukit batu. Ini merupakan ujung dari pedataran pasir Tengger
setelah mereka melewati Gucialit. Sehabis bebukitan batu itu kota tujuan
mereka yakni Lumajang hanya tinggal setengah hari perjalanan. Menjelang
malam mereka berharap sudah sampai di sana dan melakukan apa yang harus
mereka kerjakan. Mahesa Kelud harus mendapatkan kambali kuda putih serta
sepasang senjata mustikanya. Sedang Pendekar 212 Wiro Sableng sesuai
dengan janjinya harus melaksanakan tugas yang dibebankan Dewa Tuak
kepadanya yaitu mendapatkan kembali kitab milik kakek itu yang dicuri sang
murid. Lalu tugas berikutnya ialah menyelamatkan Anggini — Murid
Dewa Tuak yang dulu pernah hendak dijodohkan dengannya — dari tangan Kebo
Penggiring.
Di puncak sebuah bukit batu dua pendekar itu berhenti sejenak untuk
beristirahat. Kebetulan di situ terdapat sebuah mata air. Mereka minum
sepuasnya. Begitu juga kuda tunggangan masing-masing. Setelah mendapat
kesegaran baru mereka melanjutkan perjalanan. Jalan menurun yang ditempuh
diapit di kiri kanan oleh iamping batu setinggi hampir dua puluh tombak.
Derap kaki-kaki kuda menggema di samping bukit batu itu.
"Aku tiba-tiba saja merasa tidak enak ...." Murid Sinto Gandeng berseru pada
Mahesa Kelud. Dia memandang berkeliling lalu memperhatikan jauh-jauh
ke depan.
Mahesa Kelud ikut meneliti keadaan di sekitarnya lalu berkata: "Tak ada yang
harus dikawatirkan. Musuh-musuh berada jauh di Kadipaten!" Dari Wiro murid
Embah Jagatnata alias Simo Gembong itu telah mendengar penuturan mengapa
Wiro harus pergi ke Lumajang.
"Turut beberapa penjelasan yang kudengar, daerah bukit batu ini sering
dipakai para perampok untuk menghadang mangsanya!" kata Wiro lagi.
"Aku telah mengalami kejadian pahit di pedataran pasir Tenggara. Tapi sekali
ini,jika ada perampok yang berani muncul, mereka hanya minta mampus!"
menyahuti Mahesa Kelud.
Baru saja Mahesa Kelud berkata begitu tiba-tiba Wiro melihat gerakan
mencurigakan di puncak bukit samping kiri. Hal yang sama juga tampak pada
puncak bukit batu sebelah kanan.
"Lihat!" saru Wiro.
Mendongak ke atas Mahesa Kelud melihat ada tiga buah batu besar di puncak
bukit sebelah kanan lalu tiga lagi di sebelah kiri. Enam buah batu itu bergerak
ke tubir atas bukit lalu menggelinding ke bawah dengari suara gemuruh
mengerikan.
"Lekas berlindung!" teriak Mahesa Kelud.
Dua pendekar itu menggebrak kuda masing-masing. Begitu kedua kuda itu
menghambur lari, Mahesa Kelud dan Wiro melompat dari punggung kuda,
selamatkan diri dengan berlindung di bawah lakukan bukit batu pada sisi kiri
kanan.
Enam buah batu besar menghempas dahsyat. Dua ekor kuda terperangkap di
celah bukit. Terdengar ringkikan kedua binatang itu di antara gemuruh batubatu
yang jatuh. Lalu sunyi. Debu dan pasir sesaat beterbangan ke udara
menutupi pemandangan. Begitu debu dan pasir luruh ke tanah dan keadaan
terang kembali Wiro dan Mahesa Kelud menyaksikan pemandangan yang
mengenaskan. Dua ekor kuda itu tergelimpang mati di bawah himpitan enam
batu besar
"Bangsat rendah!" sumpah Mahesa Kelud marah sekali. Kedua tangannya di
silangkan di muka dada Mulutnya bergetar melapatkan aji kesaktian sedang
tubuhnya menggelegar menghimpun tenaga dalam. Didahului bentakan keras
Mahesa Kelud kemudian hantamkan tangan kanannya ke atas. Kilatan api
merah dan panas menderu. Tubir bukit batu setinggi 20 tombak di atas kiri sana
tampak berpijar lalu hancur berantakan. Pecahan batu dan bongkahan tanah
beterbangan. Namun siapapun adanya orang orang di atas sana agaknya tak
satupun yang cidera. Rupanya mereka telah lebih dulu meninggalkan tempat itu
sebelum pukulan "ilmu api" yang dilepaskan murid Emban Jagatnata
menghancurkan sebagian tubir batu.
Kagum melihat kehebatan kawannya, Pendekar 212 Wiro Sableng tak mau
kalah. Tangan kanannya sampai sebatas siku mendadak berubah menjadi putih
perak. Ketika pendekar ini menghantam ke tubir bukit batu sebelah kanan,
berkiblatlah sinar putih menyilaukan disertai deru angin panas yang dahsyat.
Puncak bukit batu di atas sana menggelegar runtuh.
"Pukulan sinar matahari!" seru Mahesa Kelud kaget dan kagum ketika
menyaksikan pukulan itu. Dia sudah lama mendengar namun baru sekali ini
menyaksikan sendiri. Kini Mahesa Kelud sadar siapa sebenarnya kawannya yang
selalu dipanggilnya dengan sebutan Sableng ini!
Seperti pukulan sakti yang dilepaskan Mahesa Kelud tadi, hantaman pukulan
sinar matahari yang dilepaskan Wiro pun tidak mengenai siapa-siapa di atas
sana.
"Keparat-keparat itu pasti sudah melarikan diri!"ujar Mahesa Kelud jengkel.
Dia ingin sekali mengejar,tapi tanpa kuda hal itu tak mungkin dilakukan.
"Mereka pasti orang-orang Adipati Kebo Penggiring!" kata Mahesa Kelud
seraya tepuk-tepuk pakaiannya yang penuh oleh debu. Dia memandang
berkeliling sambil garuk-garuk kepala. Lalu berkata: "Tak ada jalan lain. Kita
harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki!"
"Aku akan berikan pembalasan berikut bunganya pada mereka!" kata Mahesa
Kelud pula sambil kepalkan tinju.
***************
EMPAT orang penunggang kuda tampak bersiap-siap di halaman samping
gedung Kadipaten Lumajang. Salah seorang di antara mereka yang mengenakan
pakaian kebesaran Adipati bukan lain adalah Adipati Kebo Penggiring. Di
sebelahnya berturut-turut adalah dua lelaki berpakaian bagus, berusia agak
lanjut tapi memiliki tubuh sangat kekar. Salah seorang menunggang kuda putih.
Yang seorang lagi kakek berpakaian biru yang ada parut bekas luka pada
mukanya sebelah kiri mulai dari dagu sampai ke dekat mata.
"Kalian pasti Tunggul Soka dan Gajah Bledeg akan sampai malam ini dari
Kotaraja?" Adipati Kebo Penggiring bertanya.
Tiga orang di sampingnya sama mengangguk. Si cacat muka yang bernama
Ronggo Kemitir membuka mulut: "Tak usah kawatir. Mereka pasti datang untuk
menjemput senjata-senjata mustika itu. Sekaligus membantu kita menghadapi
pendekar suruhan Dewa Tuak itu "
Kebo Penggiring merasa kurang enak karena dianggap seperti takut. Dia
cepat berkata: "Soal pemuda gandeng itu tak usah dikawatirkan. Hanya saja
aku dengar kini dia bergabung dengan seorang pendekar muda lainnya. Ini
gara-gara dua sahabatku ini kesalahan turun tangan di pedataran Tengger.
Betul begitu ?"
Dua telaki bertubuh kekar berpakaian bagus terdengar batuk-batuk. Salah
seorang dari mereka yakni yang menunggang kuda putih hasil rampasan milik
Mahesa Kelud menjawab: "Dengan siapa pun pendekar gendeng itu bergabung
tak perlu ditakutkan. Kekuatan kita berempat di sini cukup dapat diandalkan,
apalagi ketambahan Tunggul Soka dan Gajah Bledeg. Jika pemuda itu punya
kepandaian tinggi, mana mungkin kami berhasil merampas kuda dan senjatasenjata
miliknya "
"Tapi menurut kawanmu yang berhasil melarikan diri dari Gucialit, dua
pendekar itu telah membikin cacat seumur hidup dua kawan kalian. Itu
sebabnya aku mengusir kawanmu yang satu itu. Karena kuanggap tidak mampu
menjalankan tugas!"
"Kepandaian mereka bertiga memang jauh di bawah kami, Adipati. Tidak
heran kalau mereka kena dipreteli. Lihat saja nanti. Jika dua pendekar itu muncul
di sini, kami akan memberi pelajaran paling bagus padanya. Adipati tinggal
minta bagian tubuhnya yang mana. Kepala, atau hati atau jantung ..."
Adipati Kebo Penggiring berdiam diri saja mendengar kata-kata orang bernama
Tambak Ijo itu. Di saat yang sama dari halaman belakang muncul seorang
diiringi oleh dua pengawal yang menghunus tombak. Orang yang digiring dua
pengawal itu ternyata adalah seorang gadis berparas cantik, berpakaian ungu.
Kedua tangannya terikat di sebelah depan, setiap langkah yang dibuatnya
tampak menyebabkan tubuhnya sebelah atas erhuyung-huyung.
"Ronggo Kemitir," kata Adipati Kebo Penggiring pada kakek bermuka cacat.
"Sebelum berangkat, coba periksa dulu totokan di tubuhnya. Aku tak ingin kita
mendapat kesulitan dalam perjalanan, walau cuma dekat saja "
Kakek berpakaian biru melompat turun dari atas kudanya. Sesaat dia
meraba-raba punggung gadis berpakaian ungu lalu berpaling pada Kebo
Pengigiring sambil anggukkan kepala. "Totokanku masih berjalan baik. Kedua
tangan tetap lumpuh, jalan suara masih normal, sepanjang kaki masih bisa
berjalan tapi terbatas
"Bagus! Kalau begitu naikkan dia ke atas kudaku. Dudukkan di sebelah
depan!" ujar Adipati Lumajang.
"Siapa sudi duduk bersamamu! Keparat!" Tiba-tiba gadis baju ungu itu
memaki.
"Gadis binal! Jaga mulutmu!" mendamprat Tambak Ijo sementara Kebo
Penggiring cuma menyeringai.
Dengan satu gerakan enteng dan sangat cepat, Ronggo Kemitir menangkap
pinggang gadis berbaju ungui lalu mengangkat dan mendudukkannya di atas
kuda di sebelah depan sang Adipati. Hal ini membuat sang dara tambah marah
dan memaki tiada henti. Namun dia tak bisa berbuat lain karena tubuhnya
dikuasai satu totokan amat lihay.
"Penging murid murtad!" si gadis membentak menyebut nama asli Kebo
Penggiring. "Guru akan datang dan membeset tubuhmu sampai lumat!"
Kebo Penggiring tertawa tawar. "Jika tua bangka buruk itu ingin
menyelamatkanmu tentu dia sudah datang dulu-dulu! Buktinya sampai hari ini
dia tidak unjukkan muka! Gurumu hanya pandai mabuk-mabuk meneguk
tuak!"
"Murid pengkhianat! Pencuri laknat!" teriak si gadis.
Kebo Penggiring memberi isyarat. Diikuti oleh
Ronggo Kemitir, Tambak Ijo dan lelaki kekar satu lagi yang bernama Lah
Bludak, mereka segera meninggalkan halaman Kadipaten.
Saat itu malam telah turun. Udara yang sejak sore mendung membuat malam
tambah memekat gelap. Rombongan itu bergerak ke arah timur, menuju pusat
Kadipaten yakni sebuah alun-alun. Karena letaknya tidak jauh dari gedung
Kadipaten maka sebentar saja mereka sampai di situ. Di tengah alun-alun,
dalam kegelapan malam tampak berdiri sebuah panggung setinggi satu tombak.
Di atas panggung kayu itu dibangun dua buah tonggak besar berikut
palangnya di sebelah atas, lengkap dengan tali besar. Keseluruhannya
membentuk sebuah tiang gantungan yang mengerikan. Di bawah panggung
tampak duduk berjongkok sesosok tubuh. Di hadapannya ada sebuah
pendupaan menyala yang asapnya menebar bau menyan!
"Anggini, kau lihat tiang gantungan itu?" Kebo Penggiring bertanya pada gadis
yang duduk diatas kuda di sebelah depannya.
"Mataku tidak buta!" sahut dara berbaju ungu yang ternyata adalah Anggini,
murid Dewa Tuak yang ditawan oleh Kebo Penggiring.
"Bagus, matamu tidak buta. Kuharap hatimu juga tidak terus-menerus
membatu. Apa kau tidak takut melihat tiang gantungan itu?" tanya sang Adipati
lagi.
"Takut . . . ?!" sang dara menyeringai. "Mengapa harus takut! Digantung saat
ini pun aku tidak takut! Tak perlu menunggu sampai besok pagi!"
"Kau memang gadis pemberani. Itu yang membuat aku kagum padamu,"
kata Kebo Penggiring terus-terang. "Tetapi mengapa begitu sulit bagimu
menerima permintaanku ... ?"
Anggini kembali menyeringai sinis. "Setelah kau uri kitab guru, setelah kau
perlakukan aku seperti ini, setelah kau menjadi seorang pengkhianat bejat, kau
masih punya muka meminta aku jadi istrimu? Puah!" Dara itu meludah ke
tanah.
"Aku sudah bilang, buku ku akan kukembalikan pada guru, sehari setelah kita
melangsungkan perkawinan”
Kembali Anggini meludah. "Penging, kau sudah terlanjur menyakiti hati guru!
Kau bahkan sudah mengotori tanganmu dengan memperlakukan aku seperti
ini "
"Tujuanku justru adalah untuk membahagiakan dirimu. Terus-terang banyak
gadis yang ingin kuperistrikan. Semua bangga menjadi istri seorang Adipati.
Tapi kau menolak "
"Segala setan pelayangan mungkin bangga jadi istrimu Penging! Tapi aku
tidak! Justru aku akan mencincang sekujur tubuhmu pada kesempatan
pertama!"
Ronggo Kemitir si kakek bermuka cacat geleng geleng kepala. "Gadis ini sulit
untuk diberi pengertian Adipati " katanya.
Kebo Penggiring masih berusaha mencari harapan. "Masakan kau lebih suka
digantung daripada jadi istriku? Padahal bukankah aku adalah kakak
seperguruanmu sendiri... ?"
"Pada hari pertama kau mengkhianati guru, orang tua itu sudah tidak
menganggap kau muridnya lagi. Apa masih pantas aku menganggapmu sebagai
kakak seperguruan? Tidak malu!"
"Kalau begitu kau benar-benar menginginkan mati Anggini. Ingin digantung
dengan cap sebagai pemberontak "
"Kau boleh membunuh aku dengan dalih apapun. Tapi kebenaran tak akan
pernah bisa dikalahkan oleh angkara murka. Kau mengkhianati guru sendiri.
Mencelakai saudara seperguruan lalu sekaligus menjilat pada Kerajaan. Kau
ternyata memang manusia busuk luar biasa Penging!"
Paras Kebo Penggiring tampak merah mendengar kata-kata itu. Diikuti oleh
yang lain-lainnya dia membawa kudanya menuju panggung penggantungan.
Setelah berada dekat ke tempat itu Anggini segera melihat bahwa manusia yang
duduk di bawah panggung dan menghadapi pendupaan yang menebarkan bau
menyan itu ternyata adalah seorang nenek bermuka angker berpakaian serba
hitam. Dia terdengar seperti melaporkan mantera-mantera. Melihat kedatangan
rombongan Adipati, nenek ini hentikan membaca mantera, ulurkan kedua
tangan ke muka memberi hormat.
"Nenek Juminah " tegur Adipati Kebo Penggiring. "Menurut penglihatanmu
apakah se- mua persiapan berjalan lancar....?"
"Tentu saja Adipati . . . tentu saja!" jawab si enek. Suaranya kecil dan dia
bicara seperti orang tercekik. "Tetapi apakah sang calon tetap memilih mati
ketimbang dijadikan istri....?"
Sang Adipati termangu sesaat baru menjawab:
"Agaknya jalan pikirannya tak bisa dirobah. Mungkin kau hendak mengatakan
sesuatu sebelum kami meninggalkan tempat ini..... ?"
Nenek itu tegak dari jongkoknya. Ternyata tubuhnya pendek dan bongkok.
Matanya yang cekung memandang lekat lekat pada Anggini, membuat gadis ini
jadi tergetar juga hatinya. Lalu terdengar kata-kata si nenek.
"Dulu aku punya seorang anak gadis. Wajahnya jelek sekali. Apalagi
dibandingkan denganmu nak. Tapi dia begitu bangga ketika satu hari perajurit
Kadipaten mengambilnya jadi istri. Adalah aneh kalau kau yang begini cantik
jelita lebih suka mati digantung daripada dijadikan istri oleh Adipati Kebo
Penggiring. Adipati bukan satu pangkat yang rendah dan calon suamimu
berwajah tampan gagah, apalagi masih kakak seperguruanmu. Apakah kau
tidak hendak merubah jalan pikiranmu yang keliru itu nak .... 7"
"Nenek sialan I" maki Anggini dalam hati. Lalu dengan suara keras dia
berkata: "Jika menurutmu pangkat Adipati merupakan pangkat yang tinggi dan
tampang manusia ini tampang gagah, mengapa tidak kau saja yan§ minta
dijadikan istri?!"
Si nenek terkesiap latu gelengkan kepala sementara Kebo Penggiring
tersentak dan bergetar menahan amarah.
"Gadis bodoh . . gadis bodoh" kata si nenek berulang kali "Aku tak bisa
menolongmu. Sayang . . . sayang sekali Nenek itu kembali berjongkok dan
menyebarkan kemenyan di atas pendupaan.
"Nenek Juminah, kau telah menjalankan pekerjaanmu dengan baik. Gadis ini
memang bodoh. Memilih mati tercemar daripada menerima permintaanku "
Adipati Kebo Penggiring membalikkan kudanya dan tinggalkan tempat itu
diikuti tiga orang lainnya.
"Kau tahu apa yang bakal terjadi atas dirimu sebelum kau digantung besok
pagi Anggini?" tanya Kebo Penggiring.
Murid Dewa Tuak tidak menjawab.
Kebo Penggiring membuka mulutnya kembali.
”Aku akan memberi kesempatan sampai tengah malam nanti padamu. Jika
kau tetap pada keputusanmu, maka kehormatanmu akan kurampas. Tubuhmu
kemudian akan kuserahkan pada tiga orang dibelakangku, mungkin juga pada
dua tokoh yang akan datang dari Kotaraja. Besok pagi kau akan diseret ke tiang
gantungan. Kepalamu kemudian akan dipesiangi lalu dikirim pada gurumu Dewa
Tuak!"
Anggini tak menjawab. Mulutnya tetap terkancing. Kedua matanya
dipejamkan tetapi sekujur tubuhnya menggelegak oleh hawa amarah.
Ketika rombongan sampai di tepi alun-alun, Tambak Ijo terdengar berseru:
"Awasi Ada orang datang!"
Dari arah jalan di sebelah barat terdengar derap kaki-kaki kuda. Sesaat
kemudian dua penunggang kuda nampak muncul dari tikungan jalan yang
gelap. Keduanya segera mendatangi rombongan Adipati Kebo Penggiring. Semua
orang bersiap menjaga segala kemungkinan. Ternyata yang datang adalah
dua orang yang memang sedang ditunggu-tunggu.
"Selamat datang di Kadipaten. Kangmas Tunggu! Soka dan kangmas Gajah
Bledeg, kalian berdua memang kami tunggu-tunggu . . . . " menyambut
Kabo Penggiring.
Yang datang ternyata adalah dua tokoh dari Kotaraja. Mereka muncul di
situ sesuai dengan permintaan sang Adipati untuk dimintai bantuan dan
sekaligus menyerahkan dua buah senjata mustika hasil rampasan. Selanjutnya
senjata-senjata itu akan diteruskan ke Keraton sebagai persembahan.
Dua oranti yang barusan datang tertawa lebar. Gajah Bledeg yang bertubuh
tinggi ramping dan mengenakan blangkon coklat dengan hiasan bintang besi
kuning di sebelah depannya sesaat menatap paras gadis, yang duduk di atas
kuda di sebelah depan sang Adipati.
Dia lalu bertanya: "Inikah gadis pemberontak yang besok bakal menjalani
hukuman gantung'" Ketika melihat Kebo Penggiring mengangguk dia
menggelenkkarn kepala berulang kali. "Sayang sekali tubuh begini bagus dan
wajah begini jelita harus dikubur menjadi umpan cacing tanah ..... Aku yang tua
ini tak keberatan ditemani barang sejam dua jam...... "
Semua orang tertawa bargelak mendengar ucapan Gajah Bledeg itu. Diantara
tawa itu terdengar suara Kebo Penggiring. "Kangmas Gajah Bledeg, kau tak
perlu kawatir. Malam ini kau akan mendapat bagian khusus”
"Begitu . . . ?" ujar Gajah Bledeg seraya basahkan bibir dengan ujung lidah dan
tenggorokan turun naik. Dia berpaling pada kawannya Tunggul Soka. "Ah,
ternyata jauh-jauh datang kamari tidak sia-sia "
Tunggul Soka tersenyum dan palingkan kepala pada Kebo Penqgiring lalu
hartanya: "Adipati apakah kami dapat segera menerima dua senjata pusaka
pedang sakti dan keris ular emas itu. .... '"
"Tentu saja Kangmas Tunggul. Sampean tak usah kawatir. Dua senjata itu
kusimpan baik-baik diKadipaten. Segera akan kusarankan pada kalian besok
selesai upacara penggantungan gembong pemberontak betina ini!"
"Hemm begitu ...,.?" gumam Tunggul Soka. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat
membawa dua senjata itu kembali ke Kota raja.
"Disamping. itu kami memerlukan bantuan kangmas berdua untuk
menghadapi para pengacau yang nanti akan segera muncul di Lumajang,"
berkata Ronggo Kemitir.
"Para pengacau ?" ujar Gajah Bledeg sambil kerenyitkan kening.
"Besarkah jumlah mereka. Terdiri dari beberapa rombongan pasukan dan
siapa pemimpin mereka?" bertanya Tunggul Soka.
"Ah, mereka hanya terdiri dari dua orang. Dua pemuda ingusan)" sahut Kebo
Penggiring.
Mendengar hal itu Tunggul Soka dan Gajah Bledeg tertawa gelak-gelak.
"Kalau cuma dua pemudi ingusan biarlah aku menyediakan dua helai saputangan
untuk menyeka ingus mereka!" kata Gajah
Biedag pula dan kembali pecah suara tawa bergelak ditempat itu".
Namun diam diam ada kekhawatiran lain dalam hati Kebo Penggiring. Bukan
mustahil bekas gurunya Dewa Tuak muncul dan ikut turun tangan.

ENAM
SI NENEK Juminah yang duduk terkantuk-kantuk di bawah panggung
penggantungan tersentak kaget dan buka mata cekungnya lebar-lebar. Saat itu
malam sangat gelap dan udara dingin sekali. Di hadapannya tegak dua sosok
tubuh berpakaian putih-putih.
"Kalian siapa?!" si nenek membentak galak dan melompat tegak. Wiro Sableng
dan Mahesa Kelud sesaat saling pandang lalu Wiro menjawab: "Kami dua setan
dari neraka. Siap menjemput korban penggantungan! Tapi kami belum kenai
siapa kau, apa kerjamu malam buta di tempat ini dan apa benar di sini hendak
digantung gadis jelita gembong pemherontak?!"
Kembali si nenek terkesiap kaget mendengar ucapan pemuda berambut
gondrong yang mengaku setan dari neraka itu!
Tak kalah gertak si nenek menjawab: "Aku dukun Juminah! Penjaga tempat
penggantungan Ini!" Si nenek masukkan sepotong kemenyan ke dalam
pedupaan. Bau kemenyan menyebar tajam. "Gadis pemberontak itu memang
hendak digantung di sini, besok pagi-pagi! Apa kalian juga bangsa pemberontak
yang minta digantung?!"
"Katakan di mana gadis pemberontak itu sekarang?!" tanya Wiro.
"Hehl Di Kadipaten tentunya! Kalian tampaknya tidak bermaksud baik.
Jangan-jangan kalian sengaja mencari penyakit. Lekas berlalu dari sini"
Mahesa Kelud melirik pada Wiro dan berkata:
"Si keriput ini galak sekali. Biar kuberi pelajaran .... "
"Jangan. Aku punya rencana lain " kata Wiro. Lalu cepat dia menyambar
pendupaan yang berisi bara menyala. Di salah satu sudut kolong panggung
dilihatnya kaleng kecil berisi sisa minyak yang sebelumnya dipakai untuk
menyalakan pendupaan. Minyak itu diguyurkannya ke lantai panggung lalu pada
tiang-tiang sebelah atas dan bawah. Ketika bara ditebar di atas lantai yang
basah oleh: minyak, api pun segera berkobar.
"Kalian minta mati!" teriak nenek Juminah. Tubuhnya yang bongkok
melesat ke depan. Sepuluh jari tangannya yang kotor hitam dan berkuku
panjang menyambar ke dada dan wajah Wiro Sableng. Tapi gerakannya
mendadak tertahan karena pinggangnya ditangkap Mahesa Kelud. Pemuda ini
siap pura-pura melemparkannya ke dalam kobaran api hingga nenak Juminah
menjerit ketakutan. Mahesa Kelud lagi lemparkan perempuan tua itu ke tanah
seraya berkata: "Pergi temui Adipati Kebo Penggiring! Katakah kami dua setan
dari neraka siap untuk mengambil nyawanya!"
"Gila! Kalian berdua mesti manusia-manusia gila!" teriak si nenek.
Wiro tarik kain panjang yang dikenakan si nenek hingga melorot sampai ke
pinggul!
"Hai! Kau hendak menelanjangiku! Gilai Benar-benar gila" teriak si nenek
seraya cepat menarik lepas kainnya dari pegangan Wiro lalu tanpa tunggu
lebih lama lari lintang pukang dari tempat itu. Ternyata meskipun sudah tua
dan bertubuh bungkuk larinya kencang juga.
Ketika Adipati Kebo Penggiring dan yang lain lainnya menerima laporan si
nenek di Kadipaten, malam sudah menjelang pertengahannya.
"Mereka sudah muncul " desis Adipati Lumajang itu dan memandang
berkeliling. "Kita harus bergerak cepat. Menyongsong mereka ke alun-alun
sebelum keduanya sampai di sini
"Jangan kawatir! Kami akan membereskannya! berkata Ronggo Kemitir seraya
memberi isyarat
pada Tambak Ijo dan Lah Bludak. Sebaliknya dua orang terakhir ini menoleh ke
arah Tunggul Soka dan Gajah Bledeg. Paham akan maksud pandangan itu Gajah
Bledeg segera membuka mulut.
"Kami berdua tetap tinggal di sini. Menjaga keselamatan Adipati, mengawasi
tawanan. Sekaligus mengawal dua senjata mustika yang akan dipersembahkan
pada Sri Baginda di Kotaraja!"
Mendengar kata-kata itu Ronggo Kemitir dan dua orang lainnya tak bisa
berbuat lain. Ketiganya keluar dari gedung Kadipaten pergi ke tempat dimana
kuda mereka ditambatkan.
"Aku bukan menuduh yang tidak-tidak, tapi tindak-tanduk dua benggolan
Keraton tadi mendatangkan kecurigaan . . .. " berkata Ronggo Kemitir, si kakek
bermuka cacat pada Tambak Ijo dan Lah Bludak.
Kedua orang yang diajak bicara mengiyakan dengan suara perlahan karena
takut terdengar oleh Tunggul Soka dan Gajah Bledeg. Tak lama setelah ketiga
orang itu lenyap dari kejauhan Gajah Bledeg tegak dari kursi besar yang
didudukinya, sesaat melangkah mundar-mandir di hadapan Adipati Lumajang,
kemudian terdengar suaranya berkata.
"Rongga Kemitir dan dua kawannya itu pasti mampu menghadapi dan
menghajar dua pemuda yang datang menyerbu. Jadi tak perlu aku dan Tunggul
Soka berada lebih lama di sini "
Tentu saja Kebo Penggiring terkejut mendengar ucapan itu.
"Maksud kangmas?" tanyanya.
"Maksud kami," yang menjawab adalah Tunggul Soka, "cepat saja kau
serahkan dua senjata mustika itu dan kamr segera kembali ke Kotaraja . . . . "
"Ah, bukan begitu perjanjian kita semula," kata Kebo Penggiring mulai tampak
kesal. "Kangmas berdua datang ke sini memang untuk menjemput dua senjata
sakti itu. Tetapi sekaligus juga menyelesaikan masalahnya sampai tuntas.
Maksudku sampai pemuda pemilik dua senjata mustika itu menemui ajal di
depan mata hidungku. Baru aku bisa tenteram. Kini yang datang bukan dia
seorang, malah membawa kawan yang tingkat kepandaiannya ternyata tidak
rendah!"
"Kekawatiranmu terlalu dibesar-besarkan dimas Kebo Penggiring!" kata Gajah
Bledeg pula."Terus terang kami tak punya waktu berlama-lama di Kadipaten ini"
"Jadi kangmas tidak menginginkan kesempatan bersenang-senang dengan
gadis itu sebelum tubuhnya yang bagus digantung besok pagi .... ?" tanya
Kebo Penggiring. Dia sengaja berkata begitu untuk membujuk.
"Tentu, tentu saja aku sangat mengingininya dimas. Tidak banyak kulihat
gadis secantik dan semulus tawanan itu. Hanya saja tugas Kerajaan saat ini
lebih penting dari tubuh molek itu. Nah lekas kau ambillah kedua senjata itu.. "
Kebo Penggiring mengomel habis-habisan dalam hati. Namun dia tak bisa
berbuat lain. Seraya berdiri dari kursinya dia berkata: "Jika begitu keinginan
kangmas berdua baiklah. Silahkan menunggu sebentar."
Adipati itu melangkah masuk ke ruangan dalam. Begitu masuk ke dalam
secepat kilat dia menghilang ke sebuah ruangan rahasia di mana Pedang Sakti
dan Keris Ular Mas milik Mahesa Kelud yang diterimanya dari Tambak Ijo
disembunyikannya. Kedua senjata ini disisipkannya ke pinggang lalu bergegas
meninggalkan ruangan rahasia itu. Dari sini Kebo Penggiring memasuki sebuah
lorong kecil menurun dan sampai di sebuah kamar terbuat dari batu. Di sinilah
Anggini disekap. Sang dara masih berada dalam keadaan tertotok duduk tak
bergerak di sudut kamar. Dia sudah pasrah menerima nasib. Dinodai dan
digantung. Namun gadis ini jadi heran ketika tiba-tiba saja Kebo Penggiring
memanggul tubuhnya dan membawanya keluar dari kamar tahanan lewat
sebuah jalan rahasia yang membawanya ke bagian belakang halaman gedung
Kadipaten yang gelap.
"Kau mau bawa aku ke mana?!" tanya Anggini.
"Jangan banyak tanya!" desis Kebo Penggiring lalu cepat dia totok urat besar
di leher si gadis hingga Anggini tak mampu lagi keluarkan suara. Di bagian
belakang gedung Kadipaten tertambat dua ekor kuda besar. Kedua binatang itu
tampaknya memang sengaja disiapkan di situ. Rupanya Kebo Penggiring cukup
cerdik dan panjang akal memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Cepat
dia melompat ke atas punggung salah seekor kuda lalu membedal binatang
itu dalam kegelapan malam sambil memangku tubuh Anggini di sebelah depan.
Meskipun Kebo Penggiring berhasil mengelabui Tunggul Soka dan Gajah
Bledeg, tapi tanpa disadarinya dua sosok tubuh berpakaian putih mengejarnya
dalam kegelapan. Di pinggiran sebuah hutan kecil di sebelah tenggara
Lumajang, dua pengejar ini berhasil menyusulnya lewat jalan pintas. Salah
seorang dari mereka menarik kaki belakang kuda yang ditungganginya Hingga
tubuhnya mencelat jatuh bersama-sama tubuh Anggini.
Sekali lagi Kebo Penggiring menunjukkan kecerdikannya. Begitu jatuh
secepat kilat dia mendekap tubuh gadis itu. Memandang ke depan dia melihat
dua pemuda itu siap untuk menyerangnya. Kebo Penggiring cabut Keris Ular
Emas dari sarungnya. Sinar kuning membersit terang di tempat gelap itu.
Ujung keris ditempelkannya ke leher Anggini lalu dia membentak lemparkan
ancaman.
"Tetap di tempat kalian masing-masing! Sedikit saja kalian bergerak keris ini
akan menamatkan riwayat gadis ini!"
Wiro dan Mahesa Kelud tercekat. Sesaat tak tahu mau berbuat apa selain
tegak tak bergerak.
Perlahan-lahan dia kemudian memanggul tubuh Anggini lalu menaikkan
tubuh gadis itu ke atas kuda kembali. Ujung keris kini ditujukannya ke pinggang
si gadis. Melihat ini Wiro segera bergerak untuk menghantam tapi Mahesa
Kelud cepat mencegah dengan berteriak: "Jangan! Keris itu beracun!"
Wiro terpaksa batalkan niatnya. Jika senjata itu beracun, meskipun hanya
tergores berarti nyawa Anggini tak mungkin diselamatkan.
"Kau! Mendekat kemari!" tiba-tiba Kebo Penggiring membentak dari atas kuda.
Mahesa Kelud yang dibentak mau tak mau —demi keselamatan gadis yang
berada dibawah ancaman Kebo Penggiring—terpaksa melangkah maju. Begitu
mendekat Adipati itu hantamkan tendangan kaki kanan ke dada sipemuda.
Tubuh Mahesa Kelud melintir lalu terlempar roboh ke tanah, tergelimpang tak
berkutik lagi.
"Kini giliranmu gondrong! Kemari!" bentak Kebo Penggiring. Tapi ketika dia
berpaling ke kiri, dia dapatkan sosok tubuh Wiro Sableng tak ada lagi ditempat
itu. "Aku tahu kau sembunyi di sekitar sini, pemuda keparat! Jika kau berani
membokong silahkan! Kau bisa membunuhku, tapi gadis ini tak akan selamat
dari kematian!" habis berkata begitu Kebo Penggiring segera menggebrak kuda
tunggangannya. Sebentar saja dia sudah lenyap dalam kegelapan.
Anggini yang berada di sebelah depan berusaha memutar matanya,
memandang berkeliling. Tapi malam sangat gelap dan kuda itu sudah
menghambur jauh.
Benarkah pemuda itu yang dilihatnya tadi?"Pendekar 212 Wiro Sableng?
"Mungkinkah guru meminta bantuannya . . . ?"berbisik hati sang dara. Lalu
dia terkenang pada saat pertemuan pertama kali beberapa tahun lalu dengan
Wiro. Hanya saja dia tak bisa mengenang lebih lama karena keadaan dirinya saat
itu masih berada dalam ancaman bahaya besar.
Wiro Sableng melompat keluar dari tempat persembunyiannya di balik pohon
besar. Hatinya jengkel sekali karena tak punya kesempatan untuk menghantam
Kebo Penggiring yang ternyata berlaku sangat cerdik itu. Dia hanya sempat
sekilas melihatwajah Anggini. Tak cukup jelas untuk melihat kecantikannya
sebelum gadis itu menghilang dilarikan sang Adipati.
Cepat Wiro dekati tubuh Mahesa Kelud yang terhampar di tanah. Ketika dia
hendak menyentuh punggung pemuda itu, tubuh Mahesa Kelud
mendadak membalik dengan tangan kanan siap menghantamkan pukulan
"karang sewu"!
"Sialan! Kukira kau pingsan benaran!" ujar Wiro.
"Untung aku membentengi badan dengan aji karang sewu. Kalau tidak
tendangan tadi sudah menghancurkan jantungku!" kata Mahesa Kelud seraya
berdiri. "Aku yakin keparat itu terluka kaki kanannya. Aku mendengar suara
keluhan pendek dari mulutnya. Mana dia .. ?!"
"Kaburi"
"Harus kita kejar sebelum lari jauh!" kata Mahesa pula. Kedua pendekar itu
segera berkelebat ke arah lenyapnya Kebo Penggiring. Setelah tari jauh
sepeminuman teh Wiro berbisik pada Mahesa Kelud.
"Ada serombongan kunyuk yang mengejar kita di sebelah belakang "
"Betul," sahut Mahesa Kelud. "Tapi jelas mereka bukan hendak mengejar.
Mereka menguntit. Semuanya berkuda. Tiga orang pada jalur hutan sebelah
kanan, dua lagi di sisi sebelah kiri
"Bagaimana pendapatmu? Apakah kita perlu menghantam mereka?!" tanya
Mahesa. "
"Sebaiknya jangan. Jika timbul bentrokan, Kebo Penggiring sudah kabur
makin jauh.Kau tak akan sempat menyelamatkan si gadis dan aku tak akan
dapat mengambil dua senjata mustika itu!"
"Kau betul!" ujar Wiro. "Mari percepat lari kita!"

TUJUH
ADIPATI KEBO PENGGIRING tahu batul seluk-beluk jalan yang
ditempuhnya. Karena itulah meskipun malam gelap dia dapat memacu kudanya
dan meninggalkan siapapun mereka yang berusaha mengejar. Selewatnya
sebuah pedataran lalang Kebo Penggiring memasuki daerah bebukitan kecil dan
sampai di sebuah lembah. Dalam dinginnya malam dan kegelapan dia dapat
melihat rumah bambu yang menjadi tujuannya, terletak ditepi sebuah telaga
kecil. Hanya saja saat itu sang Adipati melihat ada satu keanehan.
Di atas atap bangunan bambu tampak sebuah lampu minyak diberi
berpagar kertas tipis warna merah hingga angin tak dapat memadamkan nyala
api lampu. Sebuah lampion!
"Apa maksud Eyang memasang lampion di atas atap " membatin Kebo
Penggiring. Kudanya menderap kencang menuju rumah kecil itu dan dalam
beberapa saat saja sudah sampai di sana. Pintu depan rumah tampak terbuka.
"Eyang, saya datang ....." kata Kebo Penggiring dengan suara dikeraskan.
Dari dalam bangunan yang gelap terdengar suara batuk-batuk lalu orang
menjawab: "Bagus .... Masuklah. Malam buta begini kau muncul tentu ada
sesuatu yang penting!"
Kabo Penggiring turun dari kudanya iaiu menggendong Anggini dan masuk ke
dalam bangunan yang gelap. Meskipun gelap namun dia dapat melihat sosok
tubuh sang guru yang duduk di sudut kanan, berjubah hitam, lengkap dengan
topi kain hitam berbentuk kepala poncong.
"Eyang Poncong Item " sang guru ternyata bernama aneh, "apakah kau ada
baik-baik saja?”
"Tentu . . . tentu”
"Suara Eyang terdengar lain dan sering-sering batuk .... "
"Ya . . Tua bangka sepertiku ini memang mudah masuk angin. Sudah tiga
hari aku batuk. Itu sebabnya suaraku lain "
Kebo Penggiring coba menembus kegelapan malam dalam bangunan bambu
yang gelap pekat itu. Dia jelas merasakan satu kelainan. Tapi tidak dapat
memastikan opa yang terasa lain itu. Otaknya bekerja keras tapidia tak dapat
memecahkan teka-teki yang ada dalam dirinya sendiri itu.
"Sosok tubuh siap yang kau gotong masuk itu, muridku?"' Eyang Poncong Item
bertanya dari sudut gelap.
"Adik seperguruanku Eyang
"Hemm . . . bukankah dia yang kabarnya menjadi gembong pemberontak
terhadap Kerajaan? Kau menangkapnya atau bagaimana? Apakah dia sakit?"
Kebo Penggiring tak segera menjawab. Seingatnya dia tak pernah
menceritakan pada gurunya mengenai Anggini. Rasa tak enak kini menyamaki
hati Kebo Penggiring.
Sang guru agaknya mencium keheranan muridnya maka dia cepat batukbatuk
dan berkata: "Kau tak usah heran, muridku. Walau kau tak pernah
bercerita tapi aku punya seribu telinga untuk menyirap kabar apa yang terjadi
diluaran. Kau datang di malam buta seperti terburu-buru. Apakah ada setan
yang mengejarmu?"
"Memang ada yang mengejar saya Eyang. Tapi mereka tertinggal jauh dan
tak mungkin dapat mengejar sampai di sini. Hanya saja "
"Hanya saja apa Kebo Penggiring . ...”
"Hemmm " Tiba-tiba sang Adipati ingat. Eyang Poncong Item tak suka
bergelap-gelap dalam rumah bambunya itu. Lalu lampu minyak di atas atap!
Astaga. "Lampion di atas atap Eyang!" suara Kebo Penggiring menyentak keras,
"Ada apa dengan lampion itu?"
"Lampu itu bisa menjadi petunjuk para pengejar! Saya harus mematikannya!"
Eyang Poncong Item tertawa.
"Kau memiliki rasa takut tak beralasan . .. "
"Eyang, suara tawamu aneh!" tukas Kebo Peng-giring. Lalu dia bergerak
mencari-cari sesuatu.
"Apa yang kau cari?"
"Lampu. Saya tahu ada lampu dalam rumah ini. Dan Eyang biasa
menghidupkannya "
"Lupakan lampu itu Kebo Penggiring. Mendekatlah padaku. Ada sesuatu yang
akan kukatakan padamu
"Katakan saja Eyang," jawab Adipati Lumajang itu tanpa beringsut dari
duduknya.
"Soal kitab yang kau dapat dari gurumu Desa Tuak itu ... . Yang tempo hari
kau berikan padaku "
"Ada apa dengan kitab itu Eyang?"
"Kitab itu lenyap dicuri orang!"
"Astaga!" Kebo Penggiring terkejut. "Bagaimana mungkin ada yang sanggup
mencurinya dari tangan Eyang!" ujar sang Adipati hampir tak percaya.
"Itulah sebabnya kau kusuruh mendekat. Ada sesuatu yang hendak
kuperlihatkan padamu!"
"Mau tak mau Kebo Penggiring bergerak juga mendekati sang guru. Ketika
jarak mereka tinggal terpisah dua langkah, tiba-tiba Eyang Pencong Item
gerakkan tangan kanannya.
Wutt
Satu jotosan menghantam dada Kebo Penggiring. Adipati ini terjengkang
sambil menjerit. Menjerit karena sakit dan juga kaget luar biasa. Di lain kejap
dia sudah berdiri sambil memandang tak berkedip.
"Keparat! Kau bukan Eyang Poncong Item!" bentak Kebo Penggiring kemudian.
Orang di depannya, yang juga telah berdiri keluarkan suara tertawa mengekeh.
"Murid pengkhianat! Kau licik tapi ternyata tak cukup cerdik!" Sang" Eyang"
usap mukanya dan lemparkan topi hitam berbentuk poncong di kepalanya lalu
tanggalkan jubah hitam yang melekat di tubuhnya.
"Dewa Tuak!" saru Kebo Penggiring k«tika akhirnya dia mengenali dalam gelap
siapa adanya orang tua di depannya. Bukan gurunya yang bernama Eyang
Poncong Item itu, tetapi guru pertamanya yang telah dikhianatinya yakni Dewa
Tuak. Lalu di mana Eyang Poncong Item? Apa yang sebenarnya telah terjadi
dalam rumah bambu ini?
Selagi Kebon Penggiring terkesima begitu rupa Dewa Tuak umbar suara tawa
lalu menjangkau sebuah benda bulat panjang dari balik bahunya.
Gluk ... gluk . .. gluk i
Byuuur......!
Orang tua itu menyemburkan sesuatu dari mulutnya. Di dalam gelap menebar
harumnya bau tuak. Kebo Penggiring berseru tegang, jatuhkan diri ke lantai
bambu lalu melompat ke kiri menerobos dinding.
"Murid murtad! Kau mau lari ke mana ... ?" bentak Dewa Tuak. Dia melompat
ke pintu. Sampai di luar kembali mengajar dengan semburan tuak.
Kebo Penggiring tahu betul Kedahsyatan semburan tuak itu. Setelah
menghindar selamatkan diri dia lepaskan pukulan tangan kosong yang
mengandung tenaga dalam tinggi dua kali berturut-turut. Kekuatan
pukulan itu membuat Dewa Tuak terkejut. Buru-buru si kakek melompat ke
atas dan dari atas semburkan lagi tuaknya. Kali ini dengan kekuatan tenaga
dalam penuh. Melihat datangnya semburan tuak disertai deru laksana badai
mengamuk. Kebo Penggiring segera maklum kalau bekas gurunya itu tidak
main-main dan menginginkan kematiannyal Adipati ini gerakkan tangan
kanannya ke pinggang. Di lain kejap sinar merah berkiblat.
Terdengar suara berdering. Semburan tuak laksana menghantam dinding
bambu lalu luruh ke tanah. Belum habis kaget Dewa Tuak tiba-tiba sinar
merah menyambar ke arah dadanya. Kakek ini cepat melompat mundur. Tak
urung janggutnya kena dipapas sebagian. Pucatlah wajah Dewa Tuak sementara
Kebo Penggiring tertawa tergelak sambil melintangkan Pedang Sakti yang
memancarkan sinar merah di depan dada.
Sepasang mata Dowa Tuak tak berkesip memandangi senjata itu
"Dari mana kau dapatkan pedang mustika itu?"Si kakek bertanya.
"Kau tanyakan saja nanti pada iblis di liang kubur! ' jawab Kebo Penggiring
seenaknya. Lalu dia menyerbu. Serangan-serangannya ganas sekali Meskipun
dia tidak menguasai jurus-jurus ilmu pedang Dewa yang menjadi dasar utama
pasangan senjata mustika itu, namun karena senjata tersebut memang
merupakan senjata sakti luar biasa, dimainkan dalam jurus apa pun tetap
merupakan senjata ampuh dan berbahaya. Dalam waktu singkat Dewa Tuak
telah terkurung rapat. Hanya kegesitannya saja yang membuatnya sanggup
bertahan sampai lebih dari sepuluh jurus. Memasuki jurus ke empat belas,
satu bacokan deras yang sangat sulit dielakkannya, memaksa Dewa Tuak
pergunakan bumbung bambu minuman kesayangannya untuk menjadi perisai
diri. Tak ampun tabung itu terkutung dua namun si kakek sendiri berhasil
selamakan tubuhnya. Sesaat Dewa Tuak tegak tertegun sambil urut-urut
dadanya. Agaknya sebelumnya orang tua ini telah mengalami cidera di bagian
dada itu.
"Tua bangka buruk! Sebelum tubuhmu kucincang lekas katakan di mana
guruku Eyang Poncong Item!" Kebo Penggiring membentak.
Dewa Tuak tertawa mengekefr.
"Dia sedang berenang betsenang-senang di telaga!" jawabnya.
"Maksudmu?!" bentak Kebo Penggiring. Sekilas dia melirik ke arah telaga. Dia
tak dapat melihat apa-apa. Meskipun malam mulai merayap menuju dinihari
namun keadaan masih pekat gelap.
"Aku meminta baik-baik kitab curian yang kau berikan padanya. Tapi dia
lebih suka memilih .berenang di telaga. Hanya sayang dia berenang tidak membawa
nafas lagi.... Ha .. .ha.. .hal"
"Jadi?!"
"Gurumu sudah lama jadi bangkai.
Dada Kebo Penggiring seperti mau meledak. Pedang sakti disabatkannya ke
depan. Sinar merah berkiblat. Dia melompat untuk menyerbu kakek itu
kembali. Namun gerakannya tertahan ketika dia melihat ada beberapa sosok
tubuh berdiri dalam kegelapan. Kebo Penggiring segera mengenali orang-orang
itu. Mereka adalah Ronggo Kemitir, Tambak Ijo, Lah Bludak, dan Tunggul Soka.
"Ah, urusan ini bisa jadi kapiran!" keluh Kebo Penggiring dalam hati. Dia
mencari-cari tapi.tak melihat Gajah Bledeg. Ketika dia berpaling ke arah
bangunan bambu dilihatnya orang itu tegak di sana dan
memanggul tubuh Anggini di bahu kirinya!
"Kangmas Gajah Bledeg! Apa yang hendak kau lakukan dengan gadis itu?!"
teriak Kebo Penggiring bertanya.
"Kebo Penggiring," sahut Gajah Bledeg. "Sebaiknya kau selesaikan saja
urusanmu dengan gurumu. Soal gadis ini tak usah dipikirkan!"
"Kalau kau berani melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya akan
kubunuh kau!" mengancam Kebo Penggiring.
Gajah Bledeg tertawa bergelak.
"Sebelumnya kau hendak mencelakai gadis ini! Hendak menodai dan
menggantungnya! "Sekarang mengapa kau ingin membelanya?!" tanya Gajah
Bledeg jelas dengan maksud mengejek.
Kebo Penggiring geram bukan main. Sesaat dia memutar otak. Lalu berkata
dengan suara bergetar:
"Kangmas Gajah Bledeg, jika kau tidak melepaskan gadis itu, terpaksa aku
menyerangmu!"
Kembali benggolan kerajaan itu tertawa dan menjawab menantang: "Siapa
takut padamu Kebo Penggiring! Kelak aku akan membuat laporan ke Istana
Bahwa kau berani mengangkat senjata terhadap orang
Keraton. Bahwa kau ternyata juga seorang gembong pemberontak!"
Mendengar kata-kata Gajah Bledag itu. Kebo Penggiring tak dapat lagi
menahan amarahnya. Dia segera menyerbu. Tapi setengah jalan Dewa Tuak
menghadangnya sambil tertawa ha-ha hi-hi meskipun sambil mengurut
dadanya yang sakit.
"Murid khianat! Pelajaran yang kuterima darimu belum selesai. Mari kita
main-main lagi beberapa jurus sampai ada yang mampus di antara kita!"
Kebo Penggiring merasa heran melihat tindakan bekas gurunya ini.
Seharusnya Dewa Tuak berusaha menyelamatkan muridnya Anggini. Tapi
malah justru menghadangnya.
"Tua bangka geblek!" makinya. "Rupanya kau memang sudah bosan hidup"
Kebo Penggiring melompat menerjang. Dewa
Tuak tegak tenang-tenang saja. Sesaat kemudian terdengar suaranya berseru..
"Pendekar 2121 Sudah saatnya kau keluar dari persembunyianmu. Kau
datang ke mari bukan untuk menonton tapi menolongku! Lekas selesaikan
urusan dengan manusia jelek bernama Gajah Bledeg itu "

DELAPAN
WIRO SABLENG yang memang sejak tadi mendekam di balik semak
belukar bersama Mahesa Kelud menunggu kesempatan baik, mendengar
teriakan Dewa Tuak itu segera melesat keluar, ke arah Gajah Bledeg.
Melihat hal ini Tunggul Soka tak tinggal diam. Dia memberi isyarat pada
Ronggo Kemitir agar membantu Gajah Bledeg lalu pada Tambak Ijo dan Lah
Bludak dia membisikkan agar segera mengikutinya menyerbu Kebo Penggiring.
Pedang merah di tangan Adipati itu dan juga sebilah keris mustika yang pasti
terselip di pinggangnya harus segera dirampas.
"Hemm ... Jadi ini kacung suruhan Dewa Tuak yang diutus untuk
membebaskan gadis molek ini? Apa betul namamu Sableng, cung?"
Kata-kata itu diucapkan Gajah Bledeg pada Wiro Sableng ketika pendekar ini
melangkah mendekatinya. Diejek demikian rupa Wiro Sableng keluarkan
siulan tinggi.
"Tuan besar bernama Gajah Bledeg, turut penglihatanku kau tak pantas
memakai nama Gajah. Tampangmu jauh lebih jelek dari gajah!"
Marahlah Gajah Bledeg mendengar ejekan itu. Masih memanggul Anggini di
bahu kirinya dia hantamkan satu pukulan ke kepala Wiro Sableng. Murid Sinto
Gandeng rundukkan kepala sedikit sambil melintangkan lengan kiri menangkis.
Dua lengan beradu keras. Terkejutlah tokoh dari Istana itu. Lengannya seperti
mengemplang tiang besi. Menyadari kalau si pemuda memiliki kepandaian
tinggi, Gajah Bledeg cepat turunkan tubuh Anggini dan menggolekkan gadis ini
di langkan rumah bambu. Lalu secepat kilat dia menyerbu Wiro Sableng. Kedua
telapak tangannya terkembang. Serangan-serangannya kali ini bukan berupa
jotosan, tetapi seperti orang menampar. Dan setiap tamparan yang
dilepaskannya mengeluarkan suara dahsyat seperti geledek atau petir
menyambar. Membuat semua orang tergetar hatinya dan sakit telinganya. Tidak
percuma dia mendapat nama Bledeg yang berarti geledek itu!
Wiro Sableng sendiri kaget bukan main. Seumur hidup baru sekali ini dia
menghadapi lawan yang memiliki ilmu pukulan seperti itu. Selain menimbulkan
suara menggetarkan, kedua telapak tangan Gajah Bledeg dirasakannya
mengeluarkan hawa panas.
Braak!
Salah satu tamparan Gajah Bledeg nyasar menghantam sebatang pohon
dadap. Bekas tamparan itu langsung berwarna hitam. Sesaat kemudian
terdengar suara berkereketan. Pohon besar itu patah, lalu tumbang perlahanlahan.
Kuduk Pendekar 212 jadi mengkirik dingin. Kalau mau selamat tak ada jalan
lain. Dia juga harus keluarkan ilmu simpanannya. Apalagi saat itu dilihatnya
si muka cacat Ronggo Kemitir sudah berada di samping Gajah Bledeg, siap
mengeroyoknya. Ketika kedua orang itu menyerbunya, murid Sinto Gandeng ini
sambut dengan pukulan bentang topan melanda samudera.
Kalau Ronggo Kemitir keluarkan pekik kaget dan dapatkan tubuhnya
terpental jauh lalu jatuh tergelimpang di tanah, maka Gajah Bledeg keluarkan
seruan tertahan. Dia kerahkan tenaga dalam, berusaha melawan tindihan
pukulan sakti lawan yang laksana dinding karang menghimpitnya. Tubuhnya
mengapung namun hanya sesaat. Ketika Wiro dorongkan telapak tangan
kanannya tak ampun tokoh silat Keraton ini terhempas ke belakang, berguling di
tanah. Meski kemudian dia cepat berdiri namun dadanya terasa sakit dan kedua
lututnya bergetar. Wiro Sableng sendiri kucurkan keringat di keningnya tanda
tenaga dalam perlawanan Gajah Bledeg sungguh luar biasa.
Di lain bagian Mahesa Kelud telah pula melompat keluar dari balik semak
belukar di mana sebelumnya dia bersembunyi bersama Wiro Sableng. Pendekar
ini merasa kawatir melihat begitu banyak orang yang menyerang Kebo
Penggiring. Dewa Tuak menyerang Adipati itu jelas untuk menghukum
muridnya yang khianat. Sebaliknya kesempatan ini dapat dipergunakan oleh
Tunggul Soka untuk merampas senjata-senjata mustika miliknya yang
dirampok dan kini berada di tangan Kebo Penggiring. Dalam pada itu Mahesa
melihat pula dua lelaki tinggi besar berpakaian bagus yakni Tambak' Ijo dan
Lah Bludak, yang merupakan dua dari lima orang yang telah merampoknya di
pedataran Tengger. Menimbang sampai ke situ maka Mahesa Kelud segera
berteriak.
"Dewa Tuakl Kau terluka di dalam! Mengapa tidak selamatkan saja murid
perempuanmu itu? Biarkan aku menggasak segerombolan badut ini!"
Dewa Tuak hendak memaki marah mendengar kata-kata Mahesa Kelud itu.
Namun disadarinya bahwa saat itu dia memang dalam keadaan terluka di dalam
yakni akibat pukulan Eyang Poncong Item, guru Kebo Penggiring. Dalam
perkelahian yang terjadi pada sore hari yang sama Dewa Tuak berhasil
menamatkan riwayat lawannya dan membuang mayat Poncong Item ke dalam
telaga. Ketika mayat itu digeledah dia telah menemukan kitab miliknya yang
dicuri muridnya itu. Kemungkinan besar Poncong Item yang telah menghasut
Kebo Penggiring untuk mencuri kitab tersebut kemudian menyerahkannya
padanya. Ternyata Poncong Item seorang kakek sakti mandraguna yang tak
mudah dikalahkan. Setelah berkelahi puluhan jurus baru Dewa Tuak berhasil
mengalahkannya. Itupun dia harus menerima satu pukulan telak di dadanya.
Kini menyadari kebenaran maksud baik ucapan Mahesa Kelud, Dewa Tuak
cepat menghampiri tubuh Anggini yang terbaring di langkan rumah bambu.
Sang murid ternyata tak kurang suatu apa selain di totok pada beberapa bagian
urat pentingnya hingga tak bisa bersuara, tak dapat menggerakkan kedua
tangan dan tak bisa mempergunakan kedua kakinya. Dengan cekatan Dewa
Tuak melepaskan totokan itu satu persatu. Begitu dirinya lepas dari totokan
yang melumpuhkan Anggini memeluk si kakek seraya mengucapkan terima
kasih. Lalu tanpa dapat dicegah gadis ini menyerbu ke tengah kalangan
pertempuran. Di tangannya terdapat sehelai selendang berwarna ungu yang
pada ujungnya tertera guratan hitam angka 212. Selendang ini merupakan
senjata yang diandalkan sang dara. Bagaimana angka 212 tergurat di ujung selendang
itu ada kisahnya tersendiri. (Baca serial Wiro Sableng Maut Bernyanyi
Di Pajajaran).
Ketambahan lagi seorang lawan yakni Anggini, membuat Kebo Penggiring
semakin terjepit. Mahesa Kelud berkelahi sambil keluarkan jurus-jurus Ilmu
Pedang Dewa Delapan Penjuru Angin. Sepasang tangan dan dua kakinya siap
dengan aji karang sewu yang dapat menghancurkan apa saja bila kena
dihantamnya. Selendang ungu di tangan Anggini menderu kian ke mari laksana
seekor ulat, membelit dan mematuk tiada henti. Tunggul Soka serta Tambak Ijo
dan Lah Bludak meskipun mengandalkan tangan kosong, ketiganya
melancarkan serangan-serangan berbahaya. Terutama hantaman tangan dan
kaki Tunggul Soka, sungguh ganas dan mengandung tenaga dalam sangat tinggi.
Namun pedang merah sakti di tangan Kebo Penggiring merupakan senjata
ampuh luar biasa yang dapat membendung semua serangan yang datang.
Karenanya meskipun telah terkurung rapat tetap saja para pengeroyok tidak
mampu menjatuhkan Adipati itu, apalagi merampas pedang. Satu kali Tunggul
Soka berlaku nekad. Setelah menggebrak dengan pukulan dan tendangan
berantai dia menyusup dari bawah, bergerak cepat. Satu tangan menghantam
pergalangan Kebo Penggiring, tangan lainnya membetot hulu pedang. Tapi
hampir saja pentolan istana ini celaka. Tidak terduga pedang merah itu
menyambar ganas kebawah.
Bret!
Bahu pakaian Tunggul Soka robek besar dimakan ujung pedang. Secuil
dagingnya terkelupas. Darah mengucur. Orang ini cepat melompat mundur.
Wajahnya tampak pucat. Sebagai tokoh silat istana Tunggul Soka memiliki
kepandaian silat dan tingkat tenaga dalam yang tinggi. Dibandingkan dengan
dirinya maka kepandaian Kebo Penggiring masih berada di bawah. Bagaimana
Adipati yang dikeroyok begitu banyak lawan masih mampu bertahan dia
membuat kejutan.
Tak ada alasan lain kecuali pedang merah di tangan kanannya benar-benar
senjata luar biasa. Maka semakin berkobarlah hasrat Tunggul Soka untuk
memiliki senjata tersebut.
Tunggul Soka usap luka di bahunya. Darah berhenti mengucur. Ketika dia
menyerbu kembali dari samping kiri dilihatnya sesosok tubuh melesat dari
kegelapan, langsung melabrak kalangan pertempuran. Tunggul Soka tidak kenali
siapa adanya orang ini. Sebaliknya begitu Kebo Penggiring melihat wajah
penyerang baru itu, hatinya mau tak mau jadi bergetar. Orang ini bukan lain
pemuda yang telah ditendangnya dan disangkanya telah menemui ajal, paling
tidak terluka parah. Kenyataannya dia kini malah muncul ikut menyerbu,
padahal rasa sakit akibat menendang, masih terasa di kaki kanannya.
Lain pula halnya dengan Tambak Ijo dan Lah Bludak, yang sebelumnya
bersama tiga kawannya telah menggagahi Mahesa Kelud di pedataran pasir
Tengger, kini mereka berkelahi dengan perasaan was-was tidak enak. Cepat atau
lambat pemuda itu pasti akan membalaskan dendamnya. Karena mereka berlima
sebenarnya yang menjadi pangkal sebab semua kejadian ini.
Selintas pikiran licik muncul di benak Tambak Ijo. Maka orang tinggi kekar
ini pun berteriak:
"Kangmas Tunggul Soka, Adipati Kebo Penggiring, Lah Bludak I Mari
lupakan dulu persoalan di antara kita! Kita harus menghajar lebih dulu dua
muda mudi sesat ini!
"Kau betul dimas Tambak! Mari berebut pahala memusnahkan anjing-anjing
pemberontak!" Berteriak Tunggul Soka.
"Keparat!" maki Mahesa Kelud ketika dia menyadari bahwa yang dimaksud
Tunggul Soka dengan anjing-anjing pemberontak bukan lain adalah dirinya
sendiri dan Anggini murid Dewa Tuak. Maka Mahesa Kelud pun mendekati si
gadis dan berbisik: "Saudari kau hati-hatilah. Kita bakal dikeroyok. Berkelahi
saling punggung donganku!"
Anggini yang juga mengerti kalau keadaan kini berubah, cepat melakukan
apa yang dikatakan Mahesa lalu putar selendang ungunya lebih sehat.
Bagi Mhesa Kelud yang paling penting adalah memperhatikan tindak-tanduk
gerakan Kebo Penggiring. Adipati ini merupakan musuh paling berbahaya di
antara empat pengeroyok karena pedang sakti berada di tangannya. Sebaliknya
dua titik lemah di pibak lawan adalah Tambak Ijo dan Lah Bludak. Maka
kembali dia berbisik pada Anggini.
"Hati-hati dengan pedang merah. Arahkan seranganmu lebih banyak pada
dua lawan berpakaian bagus!"
"Aku mngerti!" sahut sang dara. Kekuatan tenaga dalamnya kini dibagi dua.
Pertama disalurkan keselendang ungu yang jadi senjatanya. Sebagian lagi ke
lengan kiri. Pukulan dan tendangan berkecamuk silih berganti. Sinar ungu
selendang Anggini menderu berkelebat di udara. Di antara semua itu pedang
merah mengiblatkan sinar dan suara mendengung menggidikkan.
Mahesa Kelud kertakkan rahang. Setelah bertahan habis-habisan dengan
jurus-jurus ilmu pedang dewa pendekar ini akhirnya merasakan bahwa
kedudukannya jurus demi jurus semakin tertekan. Maka diapun mulai siapkan
pukulan sakti mandraguna yakni pukulan ilmu atau inti api. Namun pemuda ini
serta merta menyadari dalam kecamuk perkelahian yang menggila seperti itu tak
mungkin baginya mengeluarkan ilmu kesaktian itu. Untuk melakukan pukulan
inti api dia harus memejamkan mata membaca mantera. Jika itu dilakukan
sama saja dengan membiarkan lawan membantai tubuhnyal Untuk sementara
dia terpaksa menjaga diri dengan aji karang sewu sambil menunggu kesempatan
untuk mengeluarkan senjata rahasia yakni pasir terbang berwarna merahi
Kita ikuti kembali perkelahian di bagian lain yakni antara Pendekar 212 Wiro
Sableng yang dikeroyok oleh Gajah Bledeg dan Ronggo Kemitir.
Setelah mengatur jalan nafas dan darah masing-masing, Gajah Bledeg serta
Ronggo Kemitir kembali menyerbu murid Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu.
Kalau Gajah Bledeg kini kerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya maka
Ronggo Kemitir tampak membekal sebilah, pedang berbentuk aneh. Senjata ini
berbentuk lurus, memiliki ketajaman pada kedua sisinya, lalu ujungnya yang
seharusnya lancip ternyata bercagak dua. Apa pun senjata yang di tangan
Renggo Kemitir Wiro Sableng tidak merasa takut. Pusat perhatiannya adalah
sepasang tangan Gajah Bledeg yang terus menerus mengeluarkan suara
menggelegar, menebar hawa panas. Pendekar 212 bentengi diri dengan
beberapa pukulan sakti. Dia berhasil membuat Ronggo Kemitir menjadi jeri' dari
dipaksa menjaga jarak. Sebaliknya Gajah Bledeg berlaku lebih cerdik. Setiap
selesai melancarkan satu serangan, tubuhnya berkelebat cepat berpindah
tempat lalu kembali menyerang dari arah belakang. Dan ketika lawan membalik
untuk balas menghantam dia sudah bergerak ke jurusan lain.
Setelah saling hantam selama lebih dari sepuluh jurus Wiro mengambil
keputusan Ronggo Kemitir harus dibereskan lebih dulu. Maka Pendekar 212
lepaskan pukulan sinar matahari ke arah Gajeh Bledeg. Lawan satu ini terkejut
melihat sambaran sinar putih perak menyilaukan datang membabatnya disertai
deru dan hawa panas luar biasa. Ketika dia jungkir balik selamatkan diri, di
lain kejap Wiro sudah melesat ke kiri, kirimkan pukulan telak ke sisi kanan
Ronggo Kemitir yang saat itu juga ikut terkesiap melihat kedahsyatan pukulan
sinar matahari.
Kraakl
Empat tulang iga Ronggo Kemitir patah. Orang ini menjerit keras. Tubuhnya
sebelah dalam seperti ditusuk empat bilah pisau. Nafasnya mendadak
menyengat. Tubuhnya terhuyung ke belakang lalu jatuh duduk, tersandar ke
semak belukar dan tak mampu berdiri lagi.
Wiro Sableng berpaling ke arah Gajah Bledeg.
"Gajah jelek. Sekarang tinggal kau dan aku. Jika kau ingin kembali hiduphidup
ke Kotaraja, cepat tinggalkan tempat ini. Tapi kalau kau memilih mampus
bersiaplah untuk menghadap setan akhirat!"
Meskipun hatinya tergetar melihat apa yang di- alami Ronggo Kemitir namun
ucapan Pendekar 212 Wiro Sableng itu membakar amarahnya. Didahului
bentakan keras dia tepukkan kedua telapak tangannya satu sama lain.
Terdengar suara seperti geledek menggelegar. Tanah bergetar. Pendengaran
sakit seperti ditusuk. Angin panas menderu menyambar tubuh Wiro Sableng.
Murid nenek sakti dari gunung Gede ini tak tinggal diam. Begitu angin
pukulan lawan menyambar ke arahnya, kembali dia lepaskan pukulan sinar
matahari. Sekali ini dengan pengerahan lebih tiga perempat tenaga dalam.
Terjadilah hal yang membuat semua orang yang ada di tempat itu menjadi
terkesima kaget, gempar lalu bergidik ngeri.
Pukulan geledek yang diiepalkan Gajah Bledeg saling hantam di udara dengan
pukulan sinar matahari. Satu letupan dahsyat menggelegar. Cabang cabang
pohon, ranting-ranting dan dedaunan rambas hancur berentakan dan hangus
hitam. Di sebelah bawah tanah terbongkar dan beterbangan. Bangunan bambu
bekas kediaman Poncong Item roboh. Air telaga bergerlombang. Tak ada satu
orang pun yang sanggup menahan diri dari kejatuhan, termasuk Wiro sendiri.
Semua orang-orang itu terhuyung lalu jatuh duduk di tanah seperti dilamun
gempa keras. Ketika mereka memandang ke jurusan Ronggo Kemitir berada,
pentolan Istana itu tampak terkapar beberapa tombak di kejatuhan. Pakaiannya
tak kelihatan lagi. Tubuhnya hanya tinggal tulang belulang hangus menghitami
Selagi semua orang terduduk terkesiap dan berusaha menenangkan kejut
serta kengerian yang menguasai diri masing-masing. Tunggul Soka pergunakan
kesempatan. Dengan satu gerakan kilat dia berkelebat kearah Kebo Penggiring.
Sekali sentak saja dia berhasil merampas Pedang Dewa merah dari tangan
Adipati Lumajang itu.
"Bangsat pencuri!" teriak Kebon Penggiring marah dan hendak mengejar.
"Jangan tolol!" balas berteriak Tunggul Soka.
"Apa kau tidak melihat kedudukan kita sekarang terjepit? Kau masih memiliki
sebilah senjata sakti. Keluarkan benda itu lalu mari kita bergabung menghadapi
musuh musuh!" Sebenarnya Tunggul Soka memang ingin memiliki senjata itu
namun pada kesempatan yang tepat dengan licik dia dapat menutupi maksud
buruknya itu. Dan Kebo Penggiring pun termakan pula oleh kata-kata Tunggul
Soka tadi. Dia tampak mengeluarkan Keris Ular Emas dari balik pinggangnya.
Sinar kekuningan memancar di udara malam menjelang dinihari yang masih
gelap itu.
Mahesa Kelud tersentak kaget. Dewa Tuak geleng-geleng kepala. Jelas tambah
sulit bagi pihaknya untuk menghadapi empat lawan yang nekad itu, terutama
mereka yang memegang senjata mustika milik Mahesa yakni Tunggul Soka dan
Kebo Penggiring.
"Anggini, kau mundurlah!" seru Dewa Tuak yang mengawatirkan keselamatan
muridnya. Dia lalu melompat ke samping Mahesa Kelud.
"Tidak bisa guru!" terdengar sahutan sang dara.
"Bagaimanapun aku harus menghajar manusia khianat itu. Mengingat
rencana kejinya terhadapku, aku pantas memecahkan kepalanya!"
Kebo Penggiring tertawa mengekeh. "Jika kau memang ingin kutiduri majulah
....!"
"Manusia keji!" pekik Anggini. Selendangnya dikebutkan. Sinar ungu
berkelebat disertai deru angin deras menyambar kepala sang Adipati. Yang
diserang tusukkan keris emas di tangan kanannya ke atas.
Bret!
Ujung selendang ungu robek. Anggini kembeli terpekik. Saat itu Dewa Tuak
dan Mahesa Kelud tak tinggal diam. Keduanya menyerbu. Di lain pihak
Tunggul Soka dan Tambak Ijo serta Lah Bludak sudah pula bergerak,
menyongsong datangnya serangan.
Di saat perkelahian kembali hendak berkecamuk itu, tiba terdengar suara
menggaung seperti ada ribuan tawon menyerbu tempat itu. Bersamaan dengan
itu sinar putih perak tampak berputar di udara lalu membeset ke arah Kebo
Penggiring.
Percaya akan keampuhan Keris Ular Emas di tangannya sang Adipati
tusukkan senjatanya ke depan. Namun dia salah perhitungan. Sinar putih perak
tadi membabat ke bawah menghindari bentrokan lalu menelikung ke pinggang.
Kebo Penggiring terkejut. Cepat melompat mundur. Tapi terlambat. Dia merasakan
lambungnya dingin. Rasa dingin itu hanya sekejap, berganti dengan rasa
panas. Dia memandang ke bawah lalu menjerit melihat darah menyembur disusul
usus yang membusai dari perutnya yang robek besar. Memandang ke
depan dia melihat pemuda berambut gondrong itu tegak menyeringai dengan
senjata aneh di tangani
"Kapak Maut Naga Geni 212!" seru Tunggul Soka. Kini setelah dia tahu
pasti siapa adanya pemuda itu nyalinya pun meleleh. Dia sudah menguasai
pedang sakti, mengapa harus menyulitkan diri meneruskan perkelahian? Tanpa
pikir panjang lagi tokoh silat Istana ini segera balikkan diri ambil langkah seribu.
Namun sebelum tubuhnya lenyap di kegelapan Wiro arahkan Kapak Naga Geni
212 ke arahnya lalu tekan alat rahasia di hulu senjata yang berbentuk kepala
naga. Terdengar suara berdesir halus ketika selusin jarum putih melesat dari
mulut kepala naga, menyerang ke arah Tunggul Soka. Mendengar datangnya
senjata rahasia ini Tunggul Soka cepat putar pedang merah di belakang
punggung. Terdengar suara berdentringan disertai memerciknya bunga-bunga
api. Selusin jarum patah dan luruh ke tanah. Wiro memaki panjang pendek.
Dia siap melompat untuk mengejar. Namun di sebelahnya seseorang telah
berkelebat lebih dulu seraya melepas senjata rahasia pula berupa pasir berwarna
merah. Ratusan pasir itu menderu dalam kegelapan malam, sulit dilihat dan
hampir tak mengeluarkan suara.
Tunggul Soka tersentak kaget ketika punggungnya terasa perih. Sadar kalau
ada senjata rahasia lain menghantam tubuhnya, tokoh silat Istana ini cepat
jatuhkan diri seraya putar pedang merah di belakang punggung. Namun
terlambat. Puluhan pasir-pasir merah menembus kulitnya, menyusup ke dalam
daging, larut dalam aliran darah. Tunggul Soka bergulingan di tanah lalu
mencoba lari. Dia hanya sanggup lari sejauh tiga tombak lalu tersungkur sambil
mengerang. Sekujur tubuhnya terasa perih seperti ditusuki ribuan jarum. Rasa
nyeri itu disertai pula oleh hawa panas bukan alang kepalang. Darah mengucur
dari hidung, mata dan telinganya. Dari mulutnya terdengar suara seperti
mengorok. Dadanya naik ke atas lalu terhempas ke bawah bersamaan dengan
lepasnya nafasnya.
Mahesa Kelud cepat menyambar Pedang Dewa yang masih berada dalam
panggangan Tunggul Soka. Kembali ke tempat pertempuran semula Mahesa
dapatkan Kebo Penggiring sudah menggeletak di tanah. Usus membusai dan
kepala pecah. Selagi sang Adipati meregang nyawa. Anggini yang tidak dapat
menahan dendam kesumatnya hantamkan selendang ungunya ke kepala
Adipati itu. Akibatnya sang Adipati yang nyawanya memang sudah tak tertolong
lagi menemui ajal dengan kepala pecah perut jebol!
Ketika Mahesa Kelud mengambil Keris Ular Emas dari tangan mayat Kebo
Penggiring dan menggeledah pakaiannya untuk menemukan sarung Pedang
Dewa serta sarung Keris Ular Emas, Tambak Ijo dan Lah Bludak yang sudah
lama mencari kesempatan segara menyelusup di balik pepohonan dalam
kegelapan. Namun keduanya tersentak kaget ketika terdengar bentakan: "Kalian
berdua mau lari ke mana?!" Dan tahu-tahu Mahesa Kelud sudah menghadang di
depan mereka.
Tambak Ijo jatuhkan diri ke tanah. Lah Bludak mengikuti apa yang
dilakukan kawannya. Keduanya meratap minta diampuni.
"Setan tak bermalul" bentak Mahesa. "Apa yang telah kalian lakukan
terhadapku cukup layak membuat aku membunuh kalian detik ini juga"
"Jangan Raden... ampuni selembar nyawa kami. Kami hanya orang-orang
suruhan belaka ...." ratap Tambak Ijo.
"Begitu...? Baiklah. Nyawamu berdua aku ampuni. Tapi jangan harap
kalian bisa hidup senang di kemudian hari!" Habis berkata begitu Mahesa
tendang selangkangan kedua orang itu hingga anggota rahasia masing-masing
hancur. Keduanya terpelanting pingsan.
Saat itu hari mulai terang-terang tanah. Dewa Tuak tegak dengan tubuh
gontai. Dia memandang berkeliling.
"Beginilah hidup dan kehidupan..." katanya perlahan. "Kejahatan,
kekejaman, dendam dan darah selalu muncul setiap saat ada yang ingin berbuat
kebajikan dan kebaikan: Mahesa Kelud, apakah kau sudah mendapatkan kedua
senjata mustikamu kembali?"
"Sudah kek. Aku sangat berterima kasih. Kalau tak ada kau dan muridmu
serta kawanku si Sableng itu niscaya aku akan kehilangan dua senjata itu
selama-lamanya ...."
Wiro garuk-garuk kepala. Dewa Tuak batuk-batuk. Tenggorokannya terasa
kering karena sudah beberapa lama tak meneguk tuak.
"Kalian dua pemuda tentu ingin melanjutkan perjalanan. Namun aku ada
satu pertanyaan untukmu Pendekar 212 "
"Apakah itu Dewa Tuak?" tanya Wiro Sableng. Mendadak saja dia jadi
gelisah.
"Utusan jodoh tempo hari. Apakah kau sudah memikirkan ...?!"
Para Wiro Sableng berubah. Pendekar ini jadi salah tingkah. Di samping Dewa
Tuak, Anggini tampak tundukkan wajahnya yang menjadi sangat merah. Mahesa
Kelud tertawa geli dan kedip-kedipkan matanya pada Wiro.
"Jika kau memang tak berkenan pada muridku, terpaksa aku mencarikan
jodoh yang lain ...." terdengar suara Dewa Tuak.
Wiro Sableng angkat kepalanya, berpaling pada Mahesa Kelud. Murid E
mbah Jagatnata ini mendadak saja jadi pucat mukanya. Kini Wiro yang tertawa
mengekeh.
"Kek, kau benari Sahabatku ini jauh lebih cocok untuk muridmu yang jelita
itu!" kata Wiro.
"Hai! Urusan apa ini?!" seru Mahesa Kelud. Tapi saat itu Pendekar 212 Wiro
Sableng sudah berkelebat lenyap. Ketika Mahesa Kelud hendak ikut-ikutan pergi
Dewa Tuak cepat memegang lengannya.
"Soal jodoh kita manusia memang kadang-kadang tak bisa mengaturnya. Tapi
apa salahnya kau kuajak mampir melihat-lihat tempat kediamanku
"Maaf kek, aku masih ada keperluan lain..." kata Mahesa Kelud coba
menampik tapi matanya melirik memperhatikan Anggini sejenak.
Dewa Tuak tertawa panjang. Tangan kanannya menarik lengan Mahesa
Kelud. Tangan kiri memegang lengan Anggini.
"Kek, tunggu.... Aku harus mencari kuda putihku ...." ujar Mahesa puia.
"Binatang itu, mengapa harus dikhawatirkan!" kata Dewa Tuak. Lalu kakek
ini keluarkan suitan panjang. Dari balik pepohonan tampak kepala seekor kuda
putih. Ternyata binatang itu memang Panah Putih, kuda milik Mahesa yang
pernah dirampas Tambal Ijo dan kawan-kawannya. Ketika ketiga orang itu
melangkah pergi, binatang ini mengikuti dari belakang. Sementara itu hari
semakin terang tanda pagi segera menjelang.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar